titik titik lampu merah dan hijau di permukaan kaosmu

titik titik lampu merah dan hijau
di permukaan kaosmu
kuikuti dengan telunjuk

di sebelah lemari tua sepasang pelayan muda
sembunyi sembunyi berpegangan tangan

dari meja ke meja perempuan berkaki jenjang
menawarkan rokok putih sambil tersenyum

lalu aku melihatnya memalingkan wajah
menyembunyikan sejenak
bosan yang menyerang

tidak ada lagi kemarahan yang terlalu penting
tidak ada lagi kesedihan yang terlalu penting

kini semua bisa sembuh dengan cipika cipiki
rajin yoga dan update status facebook

kawan kawanmu datang
mengelilingi meja penuh botol
gelas gelas sloki keripik dan keju

tak lama lagi pergi
tak pernah kembali

bayangan botol dan gelas kosong jatuh di lenganmu,
seperti peninggalan dari abad yang lalu

belajarlah dari iklan televisi dan papan reklame
gantungkan mimpi setinggi panggung idola

sudah saatnya pulang,
bajaj langganan menunggu di depan

Advertisements

(sebentar lagi tahun ini akan pergi – versi 1)

sebentar lagi tahun ini akan pergi 
seperti tahun tahun kemarin 
     di pondok lestari 

kotak kotak memori bertumpuk tumpuk
tak berlabel tak diselotip 

rumah tak bertuan tak bertamu 
piring piring tengkurap di dapur 

tapi ruang tamuku masih seperti tahun lalu 
ada sepasang lilin wangi, satu pernah dicium api 

kembang api terburai burai   
jaemanis digendong oom doni, 
hup! sebentar lagi alna datang   
hanya malam ini tante tante oom oom 
bermain seperti anak anak kecil 

terompet toet toet 
sorak sorai pecah di balkon 
berdiri empat orang saja sekarang 
nenek, ayah, ibu dan anak 
     di pondok lestari 

dulu kita disebut apa? 
  
dua anak perempuan memanjat pohon 
di halaman sebuah rumah 
     di pinggir rel stasiun cilebut 

bagai peri peri dari negeri tanpa waktu 
kereta ini melesat begitu saja  

hari hari tak bertanggal pergi berlibur 
menyulam yang telah lewat dengan yang belum terjadi

di mana aku di antara benang dan jarum 
di dalam kotak kotak bertempelkan post-it notes 
di dalam buku buku panduan pindahan 
dan bagaimana hidup dengan pasangan yang sedang sakit 
atau krim yang menempel di tanganku 
     di kota yang dulu pernah disebut buitenzorg 

sudah sampai belum? 

gambar gambar tak bersuara
orang orang tak bersuara
wajah wajah di kaca spion
kendaraan kendaraan di jendela toko 
anak kecil bertanya ada berapa titik hujan di kaca jendela mobil 
     sambil melambai pada lampu carrefour yang mengabur

(sebentar lagi tahun ini akan pergi – versi 2)

dua anak perempuan memanjat pohon
di halaman sebuah rumah
     di pinggir rel stasiun cilebut

bagai peri peri dari negeri tanpa waktu
kereta ini melesat begitu saja 

hari hari tak bertanggal pergi berlibur
menyulam yang telah lewat dengan yang belum terjadi

di mana aku di antara benang dan jarum
di dalam kotak kotak bertempelkan post-it notes
di dalam buku buku panduan pindahan
dan bagaimana hidup dengan pasangan yang sedang sakit
atau krim yang menempel di tanganku
     di kota yang dulu pernah disebut buitenzorg

dulu kita disebut apa?

sebentar lagi tahun ini akan pergi
seperti tahun tahun kemarin
     di pondok lestari

kotak kotak memori bertumpuk tumpuk
tak berlabel tak diselotip

rumah tak bertuan tak bertamu
piring piring tengkurap di dapur

tapi ruang tamuku masih seperti tahun lalu
ada sepasang lilin wangi, satu pernah dicium api

kembang api terburai burai  
jaemanis digendong oom doni,
hup! sebentar lagi alna datang  
hanya malam ini tante tante oom oom
bermain seperti anak anak kecil

terompet toet toet
sorak sorai pecah di balkon

berdiri empat orang saja sekarang
nenek, ayah, ibu dan anak
     di pondok lestari

dulu kita disebut apa?

gambar gambar tak bersuara
orang orang tak bersuara
wajah wajah di kaca spion
kendaraan kendaraan di jendela toko
anak kecil bertanya ada berapa titik hujan di kaca jendela mobil
     sambil melambai pada lampu carrefour yang mengabur

gedung gedung baru

gedung gedung baru
berdiri di jalan jalan usang

petak petak yang kukenal
lengang dan berdebu

kursi
meja
senyum ramah

tak lagi pas
di dalam ingatan

lahan lahan
asing

sementara wajah teman temanku
tiba tiba makin tua

ke mana kalian pergi?
di mana sebenarnya aku terdampar?

 

ditulis pertama kali di tahun 2005, sempat diubah tahun 2007 dan akhirnya diacak-acak menjadi seperti di atas di tahun 2015

pilih sendiri petualanganmu

1

 

rokok telah menjadi puntung. ujungnya meninggalkan kerlip. seperti lampu yang tertangkap bola matamu. sementara vokalis band yang setengah mabuk tak jera berharap bisa mengulang keberhasilan bob marley. padahal penonton tak terlalu peduli selama gelas mereka tetap penuh.

 

2

 

untungnya kamar kecil masih sepi. belum anyir dengan bau muntah. sehingga masih ada cukup ruang untuk sepotong cerita. tentang lelaki yang kemarin menciummu. tanpa alasan.

 

3

 

cermin selalu mengulang kebenaran yang menyakitkan. tak heran tempat seperti ini selalu temaram. yah, setidaknya untuk sementara kenyataan sesuai harapan. keragu-raguan boleh pulang lebih dulu. sikat gigi dan cuci kaki. seperti anak yang dengar-dengaran.

 

4

 

bisikmu masih meninggalkan gaduh, sayang.

 

5

 

dan malam terus menawarkan pilihan. yang satu pasti lebih menyenangkan dari yang lain. tubuh-tubuh harum dan mulut-mulut beraroma bir selalu haus petualangan baru. karena semua ini soal gairah. dan gairah juga soal pilihan.

 

6

 

andaikan ini serial anak-anak kegemaranmu. setiap akhir bisa dikunjungi tanpa sesal. keingintahuan begitu mudah terpenuhi. semudah membalikkan kertas. kalaupun harus mati, itu hanya untuk sementara. setelah itu beli lagi buku terbaru.

 

7

 

gelas-gelas masih menggantung di atas bar. band malam ini mungkin masih sibuk memilih kacamata hitam yang akan melindungi mereka dari wajah-wajah jenuh penonton. matamu pun masih rapat tertutup. bersiap untuk kilap dalam gelap. dan rokok belum menjadi puntung.

 

8

 

ke mana kita malam ini?

 

 

– diambil dari sini