pagi-pagi suaminya berangkat ke kantor. ia berangkat ke kamar mandi,
mengambil cucian kotor lalu menyortirnya.
pakaian berwarna putih, hitam, terang dan gelap.
yang tumpukannya paling banyak akan dicuci duluan.
kalau sampai memenuhi drum mesin cuci, gunakan 2 tutup deterjen.
ini pekerjaan yang harus dilakukan dengan serius. karena kalau sudah jongkok akan sulit untuk berdiri lagi
dan jongkok kembali.

ia teringat beberapa hari lalu. waktu itu ia sedang di becak bersama anaknya, dalam perjalanan ke sekolah. sudah beberapa hari telinganya budek karena pileknya belum juga selesai. dan suara kendaraan lain yang melesat begitu cepat di sekitar mereka atau membunyikan klakson luar biasa keras membuatnya semakin sulit mendengar suara-suara lain. suara-suara yang lebih enak untuk didengar. ia melihat mulut anaknya dan tangan-tangan mungilnya bergerak-gerak ke sana kemari. dia memang senang bercerita tentang apa saja yang sedang dilihatnya. atau mungkin dia sedang bernyanyi-nyanyi sendiri. ia tersenyum dan membelai kepala anaknya yang besar seperti kepalanya dan suaminya. tapi ia juga tidak ingin berada di becak ini setiap hari. tapi lalu anaknya menoleh dan tersenyum.

senyum adalah perkara yang serius,
katanya sambil mengamati kemeja dan beha berputar-putar di balik pintu mesin cuci.
sebuah senyuman yang begitu polos, sederhana sehingga begitu berharga dan tak mungkin akan ia lupakan sampai ia mati nanti,
telah dibayar dengan pagi-pagi seperti ini.

Advertisements

ini jakarta bukan tengkyu

ini bukan lagi saatnya bertanya
ke mana malam akan membawamu

malam tak membawa siapa siapa ke mana mana
toh ke mana mana seringkali bukan pilihan

bulan, neon dan lampu lampu petromaks
menyala sendiri sendiri

hisap saja rokokmu
mainkan gitarmu
lupakan keringat yang sudah lama
meninggalkan harum di badan

orang orang yang masih terjaga dan tersenyum
di balik piramida piramida duren di pinggir jalan
di warung warung yang menjual steak mahal tapi keras seperti sendal
di pelataran gedung kesenian yang penuh abu rokok dan tumpahan bir
di dalam mobil cicilan yang akhirnya lunas
bertanya tanya mengapa kawan kawan mereka tak bisa melihat kota ini
apa adanya

ah, mereka pasti bercanda

ketika kamu menyembunyikan wajahmu di balik bayangan pohon pohon yang berbaris di trotoar

kadang kadang mereka lupa
yang menggerakkan kota ini
yang membuat mereka pulang
ke kasur masing masing

“bukan tengkyu,

tiga ribu,
bos!”

 

untuk Mikael Johani dan Waraney Herald Rawung

Petualangan Restoran Cepat Saji

Gambar beragam hidangan mie dan nasi, minuman aneka warna, juga hidangan penutup yang selalu cantik mengelilingiku,

mengajukan teka-teki

tentang hidup dan mati

tentang harapan dan keinginan

tentang kau dan aku.

 

Seorang pelayan berseragam merah tiba-tiba berdiri di sampingku,

tersenyum manis, menyamarkan seringai dan taring tajam, siap mencatat jawabanku—

menjadikannya hitam (atau biru, atau merah, atau entah) di atas putih

menjadikannya nyata

menjadikannya tak terbantah.

 

Di belakangnya, di dalam dapur bergaya terbuka,

koki dengan saputangan sebagai penutup kepala menunggu tanpa ekspresi

sementara uap mengepul-ngepul seperti penampakan roh ubur-ubur yang telah martir di dalam panci-panci aluminium.

Segala peralatan masak berdentang, berdentum,

seakan mengingatkan bahwa waktu terus berdenyut dan

tak banyak yang tersisa untukku.

 

Hati-hati kulihat mereka di meja sebelah: sepasang kekasih.

Yang perempuan sepertinya kurang enak badan. Ia menyantap makanan orang sakit—sepiring nasi dan semangkuk sayuran berkuah hangat. Yang lelaki hanya memesan minum, menjadi sukarelawan mengelus dan memijat punggung si perempuan,

sambil melirik ke arahku dan mengedipkan mata kirinya.

 

Segera kualihkan pandang ke mereka di meja yang lain: seorang ibu dan anak perempuannya.

Sepertinya mereka terlalu larut dalam pembicaraan daripada menghabiskan makanan. Si Ibu bercerita panjang lebar tentang hidupnya, “Yah, pada akhirnya, aku menjadi seperti sekarang ini. Sibuk mengurusi cucu. Tapi aku bahagia.” Tawanya berderai di bawah sorot mata yang kerutnya sudah bertumpuk-tumpuk. Si Anak tersenyum lalu mengangguk, entah karena tercerahkan oleh perkataan ibunya atau memang memilih untuk menurut saja karena sudah terlampau mengenali perempuan itu.

Hampir berbarengan mereka memanggil pelayan, memintanya untuk membungkuskan makanan yang tidak habis sekaligus meminta bon.

 

Kemudian kuperhatikan mereka yang membereskan meja yang baru ditinggalkan: pelayan lelaki dan perempuan.

Yang pertama mengelap permukaan meja dan berkata, “Sekali-kali ke rumah gue, dong.”

Yang satunya menyapu lantai dan berkata, “Emang rumah lo di mane?”

“Lah pan deketan sama rumah si Eni, di daerah Plumpang. Tapi sonoan dikit lagi.”

“Ah, palingan lo-nye juge kage ade.”

Pekerjaan mereka hampir rampung. Tangan-tangan mereka sungguh cekatan sehingga melihat mulut-mulut mereka lancar bertukar kata di waktu yang sama adalah pengalaman yang menakjubkan.

“Pan bisa telpon dulu. Jadi pas lo dateng gue pasti ade.” Mereka berlalu sambil membawa lap dan sapu.

“Iye.. iye.” Meja dan lantai di bawahnya berkilap-kilap.

 

Tiba-tiba pelayan yang sedari tadi berdiri di sampingku berbicara,

“Apakah Mbak sudah mempunyai jawaban?”

Oh! pikirku

Sudahkah aku?

Oh! lihat

Ia tersenyum lebih manis dari sebelumnya.

Dan aku bisa melihat taringnya.

Apa yang bisa kukatakan tentang kita?

Apakah ada jawaban yang salah atau benar?
Apakah, kalau jawabanku salah,

aku akan bernasib seperti ubur-ubur di dapur tadi kemudian menjelma kepulan asap di dapurmu?

Apakah, kalau jawabanku sekarang benar,

aku tak akan disodori teka-teki yang lain lagi?

 

Kulihat jendela di sampingku,

jendela yang bertempelkan gambar beragam hidangan mie dan nasi, minuman aneka warna, juga hidangan penutup yang selalu cantik.

 

Di baliknya,

kulihat kau bergerak luar biasa lambat di antara mereka yang berlesatan seolah manusia-manusia super, dan kau

 

se

ma

kin

jauh

 

sehingga walaupun kau menoleh,

kau tak akan mampu melihatku,

apalagi mataku yang tergenang

 

karena aku terjebak di balik telur mata sapi, kecambah, butir-butir nasi dan irisan cabai merah.

 

 

– diambil dari sini