lubang

melewati pekuburan di mana kalian tidur. di lubang yang sama, akhirnya, setelah hampir dua puluh tahun. setiap paskah dan natal, anak-anak dan cucu-cucu kalian datang dengan tubuh berbau autan. bergantian berdiri di pinggir marmer yang memagari gundukan tanah berumput gajah. bergantian pula menekan tombol kamera di telepon genggam. ibu tidak pernah melihat benda itu, ayah tidak pernah mengerti bagaimana menggunakannya kecuali untuk menelepon dan mengirim sms. kadang-kadang muncul ingatan panggilan telepon dari ayah lewat tengah malam menyuruhku segera pulang. mungkin sekarang ia bisa mengajari ibu bagaimana meneleponku dan bicara dengan anakku. ia tidak pernah melihatnya dan anakku hanya melihat foto dan nisanmu. dingkredang, dingkredang, begitu dulu ia memanggilku. mungkin begitu juga ia akan memanggilmu. dan seringkali aku bingung sehabis “satu, dua, tiga…”, aku harus tersenyum atau mengerang. kelopak-kelopak bunga beterbangan, mendarat di sekitar salib yang sedikit bengkok. peti kayu di bawahnya keropos dimakan cacing. ketika penjaga kubur datang menyirami kalian dengan air dari pompa, katanya hanya perlu ditambah sedikit tanah, rumput dan pupuk. seakan-akan semudah itu menjaga kenangan. seakan-akan kenangan harus begitu dijaga.

kami pun pulang, dan aku mengira kepalaku juga mulai keropos, membocorkan masa lalu yang tidak lengkap. dan aku tetap menemukan dua tiga titik merah di lengan.

melewati pekuburan di mana kalian tidur hari ini. aku hanya melambaikan tangan di dalam hati. membayangkan kalian tersenyum dan membalas lambaianku.

lalu telepon genggamku berbunyi.

Advertisements

dari sabang sampai ciledug raya

perempuan muda menumpang duduk di meja paling depan warung sate yang belum buka. telepon genggam menempel di telinganya dan mulutnya komat-kamit.

ibu memasukkan lembaran uang kembalian ke dalam dompetnya di depan warung teh botol. sebotol frestea dikempit di antara paha berlegging hitam.

bapak bertopi berdiri di tepi jalan. menunggu kendaraan yang lewat berkurang supaya dia bisa menyeberang. dari bawah topinya rambut pink pudar menyembul.

anak anak bermain bulutangkis di sebuah tanjakan di mulut sebuah gang sempit. palang bambu diletakkan di atas motor dan mobil bak supaya menyerupai net.

sekelompok perempuan bersila di depan pagar sebuah rumah mewah.

pekerja bangunan mengerubungi perempuan yang membawa makan siang dengan sepeda.

supir taksi mendengar dakwah dari kaset. tasbih tergantung di kaca spion dalam. kepalanya mengangguk angguk.

aku teringat nenek yang setiap hari minggu menyanyi di depan jemaat. suaranya lebih tangguh daripada tubuhnya.

dan tiang tiang beton terpancang
seperti salib
tanpa kepala
tanpa tubuh

pembangunan masih jauh dari selesai
hujan debu menyumbat pori pori
menyumpal paru paru

ke mana lagi kau mau memandang?

sekarang mungkin mereka sudah mati
padahal stasiun belum jadi

di hari kenaikan kelas yang gembira ini,
lagu-lagu bersemangat keluar dari speaker.
bapak-bapak ibu-ibu duduk rapi di kursi yang berjejer.
ada yang sesekali mengecek jualan tas kw di grup bbm,
berbisik-bisik di telepon genggam memundurkan jadwal ketemu teman lama,
sekalian buka puasa bersama gimana?
atau bertanya ke yang duduk di sebelahnya,
nanti anaknya sd tetap di sini atau pindah?
atau diam saja karena tak banyak kenal dengan yang lain.

lalu kepala sekolah memberi sambutan tanda dimulainya acara.
dan anak-anak bergiliran tampil di panggung,
menyanyi, menari, menabuh genderang,
memakai kostum binatang yang menggemaskan.
oh, begitu pintarnya mereka.
begitu kecil, juga begitu cepat besar.
entah apa lagi yang akan bisa mereka lakukan nanti.

lalu tiba saatnya para orang tua antri di depan kelas
untuk menerima laporan perkembangan anak-anak mereka di tahun ajaran yang baru lewat,
sementara anak-anak lompat-lompat berlarian,
bergantian naik ayunan atau bergelantungan di flying fox yang sudah karatan.
atau duduk berdua-dua bertiga-tiga
mendandani wajah boneka, memencet jerawat atau mengusir kuman yang terselip di gigi sapi
sambil memandangi layar tablet yang bersinar-sinar seperti mercusuar.
ini mungkin yang namanya bermain sambil berlatih keterampilan untuk bertahan hidup di kemudian hari.

di hari yang begitu riuh rendah,
hari yang penuh harapan akan masa depan yang cerah,
apakah masih ada yang bisa membaca ketakutan,
keraguan,
ketidaktahuan,
yang hati-hati disembunyikan
di dalam kotak berdebu,
dilipat-lipat di pojok lemari tua,
terselip di sarung bantal,
ditinggal,
agar lekas dilupakan,
di rumah yang dijaga pembantu,
mulutnya terbuka di atas sofa?