pagi-pagi suaminya berangkat ke kantor. ia berangkat ke kamar mandi,
mengambil cucian kotor lalu menyortirnya.
pakaian berwarna putih, hitam, terang dan gelap.
yang tumpukannya paling banyak akan dicuci duluan.
kalau sampai memenuhi drum mesin cuci, gunakan 2 tutup deterjen.
ini pekerjaan yang harus dilakukan dengan serius. karena kalau sudah jongkok akan sulit untuk berdiri lagi
dan jongkok kembali.

ia teringat beberapa hari lalu. waktu itu ia sedang di becak bersama anaknya, dalam perjalanan ke sekolah. sudah beberapa hari telinganya budek karena pileknya belum juga selesai. dan suara kendaraan lain yang melesat begitu cepat di sekitar mereka atau membunyikan klakson luar biasa keras membuatnya semakin sulit mendengar suara-suara lain. suara-suara yang lebih enak untuk didengar. ia melihat mulut anaknya dan tangan-tangan mungilnya bergerak-gerak ke sana kemari. dia memang senang bercerita tentang apa saja yang sedang dilihatnya. atau mungkin dia sedang bernyanyi-nyanyi sendiri. ia tersenyum dan membelai kepala anaknya yang besar seperti kepalanya dan suaminya. tapi ia juga tidak ingin berada di becak ini setiap hari. tapi lalu anaknya menoleh dan tersenyum.

senyum adalah perkara yang serius,
katanya sambil mengamati kemeja dan beha berputar-putar di balik pintu mesin cuci.
sebuah senyuman yang begitu polos, sederhana sehingga begitu berharga dan tak mungkin akan ia lupakan sampai ia mati nanti,
telah dibayar dengan pagi-pagi seperti ini.

Advertisements

kertas kertas menumpuk di atas meja
selembar demi selembar masuk ke dalam mesin penghancur kertas

aku memang ingin membuat kehancuran
sambil mengisi tabel perbandingan harga sayur mayur

jangan sampai kau membayar lebih mahal
ibu rumah tangga yang baik harus bijaksana membelanjakan gaji suami

buku buku yang tak selesai dibaca berdebu di pojok kamar
bukan salah siapa siapa selain diri sendiri

mana obat tetes mata dan krim pelembab
saatnya tidur pakai daster tua

kita lanjutkan lagi besok pagi
mesin penghancur kertas terdengar begitu teratur

mendengkur di dalam telinga

tadi malam begadang nonton film drama iran dengan suami. sebelumnya film horor korea. dan pagi ini mengantar anak kartinian di sekolah. anakku sangat patuh selama dirias. dan selama memakai baju adat sunda penuh manik-manik, ia benar-benar berlagak seperti putri. bicara dengan suara rendah, bahkan hampir tak berbicara. berjalan dengan anggun sambil mengangkat sedikit roknya supaya tidak terselengkat. dan, entah dapat ilham dari mana, hanya melirik tidak menoleh. tapi begitu acara selesai, ia berubah lagi jadi monster kecil badung yang bikin ibunya naik darah. aku tidak suka harus bolak-balik marah untuk hal yang sama. apalagi di saat-saat aku tidak menyangka aku perlu marah. apalagi dengan hidung dan tenggorokan gatal seperti ini. sementara rumah masih berantakan karena si mbak pun gantian kena flu. aku juga tidak suka merasa bersalah, tidak, merasa akan disalahkan masyarakat yang sebagian besar tidak mengenalku karena rasanya sekarang aku ingin membanting pintu dan mengunci diri di kamar. menunggu anakku akhirnya merengek minta dimaafkan. lalu aku akan keluar, memeluknya sambil minta maaf kalau aku sudah menggunakan suara keras tapi juga menjelaskan kenapa aku sampai marah dan kenapa ia perlu melakukan yang aku minta. lalu dia akan tersenyum dan memelukku, seperti anak koala yang menggemaskan. lalu tulisan ini kusimpan saja, tidak pernah kuperlihatkan kepada siapa-siapa. lalu nanti melelehkan air mata melihat foto-foto anakku jadi putri sunda. dan suatu hari nanti tiba-tiba menangis diam-diam saat nonton film komedi.