siang itu terik sekali di cikini
bayang bayang daun melambai lambai di trotoar

senyum anak kecil menempel di kaca kafe
tangannya bergerak gerak memberi tanda
ada sesuatu yang akan terjadi

di balik kaca aku menyembunyikan jari jariku
mengetuk ngetuk dudukan sofa berkain merah
tak bisa memutuskan, membuka atau menangkal
air bah yang akan keluar

aku mensyukuri sekaligus mengutuk kaca itu
anak kecil lompat lompat bermain engklek
angin berhembus meniup rambutnya
tapi tawanya tak terdengar dari balik sini

terik sekali di luar,
sayang,

di dalam tak ada perisai bagi gelombang air yang menerobos masuk
menyapu bangku dan meja dan gelas gelas kopi dan piring piring dan toples toples dan
tubuhku mengambang sampai ke langit langit

dari balik jendela

1

matahari terbit di jendela sevel, berkilau di layar ponsel
ini hari apa? tak ada lagi yang bertanya
hidup kini bergantung pada rima tentang yang trendi dan berkuasa
siapa kamu? tak ada lagi yang peduli

2

balita di dalam kopaja tersenyum pada angkot dan pasar di balik jendela. siang ini penuh dengan semangat yang sia-sia. semua ingin menunda yang tak terhindarkan. semoga hari-harinya tak seperti amplop yang berisi tagihan kartu kredit.

3

ada kegembiraan di jalan-jalan. lampu-lampu bersinar lebih terang. klakson terdengar meriah, bukan tak sabar. karena kemacetan ini hanya sekadar antrian ke tempat yang sama. di mana semua bisa dibeli dan membeli. walaupun hanya malam ini.

4

tukang bajaj tadi mengingatkanku kalau adalah penting mempunyai dunia kecilmu sendiri, di mana semua yang (kebetulan) ada di dalamnya harus mengikuti tata cara yang sudah kau buat. di mana semua yang sudah kau buat itu adalah baik adanya. saling melengkapi dan bisa menghidupi satu sama lain. di mana semua berjalan begitu alami dan sempurna tak ada yang bisa mengganggumu. dan di mana tak ada yang bisa dengan sengaja membuatmu merasa kecurian. dan lagu-lagu dangdut favoritnya mengantarkanku menembus kota yang keringatnya berlelehan ke dalam kali berwarna hitam.

5

ya, bukankah kota ini gerbong yang bergoyang. sampaikan salam pada kekasih, karena aku belum juga tiba.

 

 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015

yang tak pernah ketemu

apa yang kau cari di siang seperti ini ketika gerai-gerai makanan cepat saji riuh rendah oleh piring-piring yang bersentuhan dengan nampan dan orang-orang kelaparan yang begitu kikuk menggunakan pisau dengan garpu, oleh cerita-cerita tentang hari yang baru setengah berjalan sementara pengeras suara mengumandangkan lagu-lagu pop yang katanya lokal tapi sebenarnya hanya mengulang kejayaan lagu-lagu barat, oleh bermacam-macam bunyi lain yang selalu terdengar salah di telingamu dan selalu saja kau cemooh, oh, mungkin karena mejamu terlampau

sunyi

?