siang itu terik sekali di cikini
bayang bayang daun melambai lambai di trotoar

senyum anak kecil menempel di kaca kafe
tangannya bergerak gerak memberi tanda
ada sesuatu yang akan terjadi

di balik kaca aku menyembunyikan jari jariku
mengetuk ngetuk dudukan sofa berkain merah
tak bisa memutuskan, membuka atau menangkal
air bah yang akan keluar

aku mensyukuri sekaligus mengutuk kaca itu
anak kecil lompat lompat bermain engklek
angin berhembus meniup rambutnya
tapi tawanya tak terdengar dari balik sini

terik sekali di luar,
sayang,

di dalam tak ada perisai bagi gelombang air yang menerobos masuk
menyapu bangku dan meja dan gelas gelas kopi dan piring piring dan toples toples dan
tubuhku mengambang sampai ke langit langit

pagi-pagi suaminya berangkat ke kantor. ia berangkat ke kamar mandi,
mengambil cucian kotor lalu menyortirnya.
pakaian berwarna putih, hitam, terang dan gelap.
yang tumpukannya paling banyak akan dicuci duluan.
kalau sampai memenuhi drum mesin cuci, gunakan 2 tutup deterjen.
ini pekerjaan yang harus dilakukan dengan serius. karena kalau sudah jongkok akan sulit untuk berdiri lagi
dan jongkok kembali.

ia teringat beberapa hari lalu. waktu itu ia sedang di becak bersama anaknya, dalam perjalanan ke sekolah. sudah beberapa hari telinganya budek karena pileknya belum juga selesai. dan suara kendaraan lain yang melesat begitu cepat di sekitar mereka atau membunyikan klakson luar biasa keras membuatnya semakin sulit mendengar suara-suara lain. suara-suara yang lebih enak untuk didengar. ia melihat mulut anaknya dan tangan-tangan mungilnya bergerak-gerak ke sana kemari. dia memang senang bercerita tentang apa saja yang sedang dilihatnya. atau mungkin dia sedang bernyanyi-nyanyi sendiri. ia tersenyum dan membelai kepala anaknya yang besar seperti kepalanya dan suaminya. tapi ia juga tidak ingin berada di becak ini setiap hari. tapi lalu anaknya menoleh dan tersenyum.

senyum adalah perkara yang serius,
katanya sambil mengamati kemeja dan beha berputar-putar di balik pintu mesin cuci.
sebuah senyuman yang begitu polos, sederhana sehingga begitu berharga dan tak mungkin akan ia lupakan sampai ia mati nanti,
telah dibayar dengan pagi-pagi seperti ini.

gedung gedung baru

gedung gedung baru
berdiri di jalan jalan usang

petak petak yang kukenal
lengang dan berdebu

kursi
meja
senyum ramah

tak lagi pas
di dalam ingatan

lahan lahan
asing

sementara wajah teman temanku
tiba tiba makin tua

ke mana kalian pergi?
di mana sebenarnya aku terdampar?

 

ditulis pertama kali di tahun 2005, sempat diubah tahun 2007 dan akhirnya diacak-acak menjadi seperti di atas di tahun 2015

kota ini jatuh

kota ini jatuh

 

ke dalam becek

 

tapi tak ada yang keberatan

 

semua tersenyum

 

bersama hujan

 

waria memamerkan paha

 

yang licin berkilat kilat

 

sambil memutar mutar rokok

 

di antara jemari yang kokoh

 

abunya melekat

 

pada rok merah muda

 

kota ini lantai dansa

 

setidaknya trotoar ini

 

gemerlap dan licin

 

sinar laser menembus langit

 

lampu-lampu seperti pelangi

 

ada anak kecil berlari

 

dengan kaki telanjang

 

berpijar

 

seperti cahaya neon

 

kota ini telah minum terlalu banyak

 

dan wajahmu berseri-seri seperti reklame di halte bis

 

 

 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015

Petualangan Restoran Cepat Saji

Gambar beragam hidangan mie dan nasi, minuman aneka warna, juga hidangan penutup yang selalu cantik mengelilingiku,

mengajukan teka-teki

tentang hidup dan mati

tentang harapan dan keinginan

tentang kau dan aku.

 

Seorang pelayan berseragam merah tiba-tiba berdiri di sampingku,

tersenyum manis, menyamarkan seringai dan taring tajam, siap mencatat jawabanku—

menjadikannya hitam (atau biru, atau merah, atau entah) di atas putih

menjadikannya nyata

menjadikannya tak terbantah.

 

Di belakangnya, di dalam dapur bergaya terbuka,

koki dengan saputangan sebagai penutup kepala menunggu tanpa ekspresi

sementara uap mengepul-ngepul seperti penampakan roh ubur-ubur yang telah martir di dalam panci-panci aluminium.

Segala peralatan masak berdentang, berdentum,

seakan mengingatkan bahwa waktu terus berdenyut dan

tak banyak yang tersisa untukku.

 

Hati-hati kulihat mereka di meja sebelah: sepasang kekasih.

Yang perempuan sepertinya kurang enak badan. Ia menyantap makanan orang sakit—sepiring nasi dan semangkuk sayuran berkuah hangat. Yang lelaki hanya memesan minum, menjadi sukarelawan mengelus dan memijat punggung si perempuan,

sambil melirik ke arahku dan mengedipkan mata kirinya.

 

Segera kualihkan pandang ke mereka di meja yang lain: seorang ibu dan anak perempuannya.

Sepertinya mereka terlalu larut dalam pembicaraan daripada menghabiskan makanan. Si Ibu bercerita panjang lebar tentang hidupnya, “Yah, pada akhirnya, aku menjadi seperti sekarang ini. Sibuk mengurusi cucu. Tapi aku bahagia.” Tawanya berderai di bawah sorot mata yang kerutnya sudah bertumpuk-tumpuk. Si Anak tersenyum lalu mengangguk, entah karena tercerahkan oleh perkataan ibunya atau memang memilih untuk menurut saja karena sudah terlampau mengenali perempuan itu.

Hampir berbarengan mereka memanggil pelayan, memintanya untuk membungkuskan makanan yang tidak habis sekaligus meminta bon.

 

Kemudian kuperhatikan mereka yang membereskan meja yang baru ditinggalkan: pelayan lelaki dan perempuan.

Yang pertama mengelap permukaan meja dan berkata, “Sekali-kali ke rumah gue, dong.”

Yang satunya menyapu lantai dan berkata, “Emang rumah lo di mane?”

“Lah pan deketan sama rumah si Eni, di daerah Plumpang. Tapi sonoan dikit lagi.”

“Ah, palingan lo-nye juge kage ade.”

Pekerjaan mereka hampir rampung. Tangan-tangan mereka sungguh cekatan sehingga melihat mulut-mulut mereka lancar bertukar kata di waktu yang sama adalah pengalaman yang menakjubkan.

“Pan bisa telpon dulu. Jadi pas lo dateng gue pasti ade.” Mereka berlalu sambil membawa lap dan sapu.

“Iye.. iye.” Meja dan lantai di bawahnya berkilap-kilap.

 

Tiba-tiba pelayan yang sedari tadi berdiri di sampingku berbicara,

“Apakah Mbak sudah mempunyai jawaban?”

Oh! pikirku

Sudahkah aku?

Oh! lihat

Ia tersenyum lebih manis dari sebelumnya.

Dan aku bisa melihat taringnya.

Apa yang bisa kukatakan tentang kita?

Apakah ada jawaban yang salah atau benar?
Apakah, kalau jawabanku salah,

aku akan bernasib seperti ubur-ubur di dapur tadi kemudian menjelma kepulan asap di dapurmu?

Apakah, kalau jawabanku sekarang benar,

aku tak akan disodori teka-teki yang lain lagi?

 

Kulihat jendela di sampingku,

jendela yang bertempelkan gambar beragam hidangan mie dan nasi, minuman aneka warna, juga hidangan penutup yang selalu cantik.

 

Di baliknya,

kulihat kau bergerak luar biasa lambat di antara mereka yang berlesatan seolah manusia-manusia super, dan kau

 

se

ma

kin

jauh

 

sehingga walaupun kau menoleh,

kau tak akan mampu melihatku,

apalagi mataku yang tergenang

 

karena aku terjebak di balik telur mata sapi, kecambah, butir-butir nasi dan irisan cabai merah.

 

 

– diambil dari sini