di hari kenaikan kelas yang gembira ini,
lagu-lagu bersemangat keluar dari speaker.
bapak-bapak ibu-ibu duduk rapi di kursi yang berjejer.
ada yang sesekali mengecek jualan tas kw di grup bbm,
berbisik-bisik di telepon genggam memundurkan jadwal ketemu teman lama,
sekalian buka puasa bersama gimana?
atau bertanya ke yang duduk di sebelahnya,
nanti anaknya sd tetap di sini atau pindah?
atau diam saja karena tak banyak kenal dengan yang lain.

lalu kepala sekolah memberi sambutan tanda dimulainya acara.
dan anak-anak bergiliran tampil di panggung,
menyanyi, menari, menabuh genderang,
memakai kostum binatang yang menggemaskan.
oh, begitu pintarnya mereka.
begitu kecil, juga begitu cepat besar.
entah apa lagi yang akan bisa mereka lakukan nanti.

lalu tiba saatnya para orang tua antri di depan kelas
untuk menerima laporan perkembangan anak-anak mereka di tahun ajaran yang baru lewat,
sementara anak-anak lompat-lompat berlarian,
bergantian naik ayunan atau bergelantungan di flying fox yang sudah karatan.
atau duduk berdua-dua bertiga-tiga
mendandani wajah boneka, memencet jerawat atau mengusir kuman yang terselip di gigi sapi
sambil memandangi layar tablet yang bersinar-sinar seperti mercusuar.
ini mungkin yang namanya bermain sambil berlatih keterampilan untuk bertahan hidup di kemudian hari.

di hari yang begitu riuh rendah,
hari yang penuh harapan akan masa depan yang cerah,
apakah masih ada yang bisa membaca ketakutan,
keraguan,
ketidaktahuan,
yang hati-hati disembunyikan
di dalam kotak berdebu,
dilipat-lipat di pojok lemari tua,
terselip di sarung bantal,
ditinggal,
agar lekas dilupakan,
di rumah yang dijaga pembantu,
mulutnya terbuka di atas sofa?

dari balik jendela

1

matahari terbit di jendela sevel, berkilau di layar ponsel
ini hari apa? tak ada lagi yang bertanya
hidup kini bergantung pada rima tentang yang trendi dan berkuasa
siapa kamu? tak ada lagi yang peduli

2

balita di dalam kopaja tersenyum pada angkot dan pasar di balik jendela. siang ini penuh dengan semangat yang sia-sia. semua ingin menunda yang tak terhindarkan. semoga hari-harinya tak seperti amplop yang berisi tagihan kartu kredit.

3

ada kegembiraan di jalan-jalan. lampu-lampu bersinar lebih terang. klakson terdengar meriah, bukan tak sabar. karena kemacetan ini hanya sekadar antrian ke tempat yang sama. di mana semua bisa dibeli dan membeli. walaupun hanya malam ini.

4

tukang bajaj tadi mengingatkanku kalau adalah penting mempunyai dunia kecilmu sendiri, di mana semua yang (kebetulan) ada di dalamnya harus mengikuti tata cara yang sudah kau buat. di mana semua yang sudah kau buat itu adalah baik adanya. saling melengkapi dan bisa menghidupi satu sama lain. di mana semua berjalan begitu alami dan sempurna tak ada yang bisa mengganggumu. dan di mana tak ada yang bisa dengan sengaja membuatmu merasa kecurian. dan lagu-lagu dangdut favoritnya mengantarkanku menembus kota yang keringatnya berlelehan ke dalam kali berwarna hitam.

5

ya, bukankah kota ini gerbong yang bergoyang. sampaikan salam pada kekasih, karena aku belum juga tiba.

 

 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015