pagi-pagi suaminya berangkat ke kantor. ia berangkat ke kamar mandi,
mengambil cucian kotor lalu menyortirnya.
pakaian berwarna putih, hitam, terang dan gelap.
yang tumpukannya paling banyak akan dicuci duluan.
kalau sampai memenuhi drum mesin cuci, gunakan 2 tutup deterjen.
ini pekerjaan yang harus dilakukan dengan serius. karena kalau sudah jongkok akan sulit untuk berdiri lagi
dan jongkok kembali.

ia teringat beberapa hari lalu. waktu itu ia sedang di becak bersama anaknya, dalam perjalanan ke sekolah. sudah beberapa hari telinganya budek karena pileknya belum juga selesai. dan suara kendaraan lain yang melesat begitu cepat di sekitar mereka atau membunyikan klakson luar biasa keras membuatnya semakin sulit mendengar suara-suara lain. suara-suara yang lebih enak untuk didengar. ia melihat mulut anaknya dan tangan-tangan mungilnya bergerak-gerak ke sana kemari. dia memang senang bercerita tentang apa saja yang sedang dilihatnya. atau mungkin dia sedang bernyanyi-nyanyi sendiri. ia tersenyum dan membelai kepala anaknya yang besar seperti kepalanya dan suaminya. tapi ia juga tidak ingin berada di becak ini setiap hari. tapi lalu anaknya menoleh dan tersenyum.

senyum adalah perkara yang serius,
katanya sambil mengamati kemeja dan beha berputar-putar di balik pintu mesin cuci.
sebuah senyuman yang begitu polos, sederhana sehingga begitu berharga dan tak mungkin akan ia lupakan sampai ia mati nanti,
telah dibayar dengan pagi-pagi seperti ini.

Advertisements

di hari kenaikan kelas yang gembira ini,
lagu-lagu bersemangat keluar dari speaker.
bapak-bapak ibu-ibu duduk rapi di kursi yang berjejer.
ada yang sesekali mengecek jualan tas kw di grup bbm,
berbisik-bisik di telepon genggam memundurkan jadwal ketemu teman lama,
sekalian buka puasa bersama gimana?
atau bertanya ke yang duduk di sebelahnya,
nanti anaknya sd tetap di sini atau pindah?
atau diam saja karena tak banyak kenal dengan yang lain.

lalu kepala sekolah memberi sambutan tanda dimulainya acara.
dan anak-anak bergiliran tampil di panggung,
menyanyi, menari, menabuh genderang,
memakai kostum binatang yang menggemaskan.
oh, begitu pintarnya mereka.
begitu kecil, juga begitu cepat besar.
entah apa lagi yang akan bisa mereka lakukan nanti.

lalu tiba saatnya para orang tua antri di depan kelas
untuk menerima laporan perkembangan anak-anak mereka di tahun ajaran yang baru lewat,
sementara anak-anak lompat-lompat berlarian,
bergantian naik ayunan atau bergelantungan di flying fox yang sudah karatan.
atau duduk berdua-dua bertiga-tiga
mendandani wajah boneka, memencet jerawat atau mengusir kuman yang terselip di gigi sapi
sambil memandangi layar tablet yang bersinar-sinar seperti mercusuar.
ini mungkin yang namanya bermain sambil berlatih keterampilan untuk bertahan hidup di kemudian hari.

di hari yang begitu riuh rendah,
hari yang penuh harapan akan masa depan yang cerah,
apakah masih ada yang bisa membaca ketakutan,
keraguan,
ketidaktahuan,
yang hati-hati disembunyikan
di dalam kotak berdebu,
dilipat-lipat di pojok lemari tua,
terselip di sarung bantal,
ditinggal,
agar lekas dilupakan,
di rumah yang dijaga pembantu,
mulutnya terbuka di atas sofa?

tadi malam begadang nonton film drama iran dengan suami. sebelumnya film horor korea. dan pagi ini mengantar anak kartinian di sekolah. anakku sangat patuh selama dirias. dan selama memakai baju adat sunda penuh manik-manik, ia benar-benar berlagak seperti putri. bicara dengan suara rendah, bahkan hampir tak berbicara. berjalan dengan anggun sambil mengangkat sedikit roknya supaya tidak terselengkat. dan, entah dapat ilham dari mana, hanya melirik tidak menoleh. tapi begitu acara selesai, ia berubah lagi jadi monster kecil badung yang bikin ibunya naik darah. aku tidak suka harus bolak-balik marah untuk hal yang sama. apalagi di saat-saat aku tidak menyangka aku perlu marah. apalagi dengan hidung dan tenggorokan gatal seperti ini. sementara rumah masih berantakan karena si mbak pun gantian kena flu. aku juga tidak suka merasa bersalah, tidak, merasa akan disalahkan masyarakat yang sebagian besar tidak mengenalku karena rasanya sekarang aku ingin membanting pintu dan mengunci diri di kamar. menunggu anakku akhirnya merengek minta dimaafkan. lalu aku akan keluar, memeluknya sambil minta maaf kalau aku sudah menggunakan suara keras tapi juga menjelaskan kenapa aku sampai marah dan kenapa ia perlu melakukan yang aku minta. lalu dia akan tersenyum dan memelukku, seperti anak koala yang menggemaskan. lalu tulisan ini kusimpan saja, tidak pernah kuperlihatkan kepada siapa-siapa. lalu nanti melelehkan air mata melihat foto-foto anakku jadi putri sunda. dan suatu hari nanti tiba-tiba menangis diam-diam saat nonton film komedi.