titik titik lampu merah dan hijau di permukaan kaosmu

titik titik lampu merah dan hijau
di permukaan kaosmu
kuikuti dengan telunjuk

di sebelah lemari tua sepasang pelayan muda
sembunyi sembunyi berpegangan tangan

dari meja ke meja perempuan berkaki jenjang
menawarkan rokok putih sambil tersenyum

lalu aku melihatnya memalingkan wajah
menyembunyikan sejenak
bosan yang menyerang

tidak ada lagi kemarahan yang terlalu penting
tidak ada lagi kesedihan yang terlalu penting

kini semua bisa sembuh dengan cipika cipiki
rajin yoga dan update status facebook

kawan kawanmu datang
mengelilingi meja penuh botol
gelas gelas sloki keripik dan keju

tak lama lagi pergi
tak pernah kembali

bayangan botol dan gelas kosong jatuh di lenganmu,
seperti peninggalan dari abad yang lalu

belajarlah dari iklan televisi dan papan reklame
gantungkan mimpi setinggi panggung idola

sudah saatnya pulang,
bajaj langganan menunggu di depan

ini jakarta bukan tengkyu

ini bukan lagi saatnya bertanya
ke mana malam akan membawamu

malam tak membawa siapa siapa ke mana mana
toh ke mana mana seringkali bukan pilihan

bulan, neon dan lampu lampu petromaks
menyala sendiri sendiri

hisap saja rokokmu
mainkan gitarmu
lupakan keringat yang sudah lama
meninggalkan harum di badan

orang orang yang masih terjaga dan tersenyum
di balik piramida piramida duren di pinggir jalan
di warung warung yang menjual steak mahal tapi keras seperti sendal
di pelataran gedung kesenian yang penuh abu rokok dan tumpahan bir
di dalam mobil cicilan yang akhirnya lunas
bertanya tanya mengapa kawan kawan mereka tak bisa melihat kota ini
apa adanya

ah, mereka pasti bercanda

ketika kamu menyembunyikan wajahmu di balik bayangan pohon pohon yang berbaris di trotoar

kadang kadang mereka lupa
yang menggerakkan kota ini
yang membuat mereka pulang
ke kasur masing masing

“bukan tengkyu,

tiga ribu,
bos!”

 

untuk Mikael Johani dan Waraney Herald Rawung

hujan dan burung kertas

hujan turun lagi malam ini. asap yang keluar dari mulutku tak pergi jauh. mengerubungi kepala seperti burung-burung kertas. seorang laki-laki yang memakai baju perempuan memetik gitar di seberang jalan tapi suaranya tak sampai ke sini. motor dan mobil berkejaran di atas aspal yang mulai bolong-bolong. menciptakan bayang-bayang yang berkelebat di antara deretan ruko dan gerobak-gerobak penjual buah di pinggir jalan. di sini, di bawah lampu jalan dan papan iklan, kesedihan tak sempat lagi ditangisi. seorang laki-laki yang memakai baju perempuan menyalakan rokoknya. ini segelas kopi hitam, kata sebuah suara entah dari kepala siapa. tak lama lagi, hujan dan burung kertas akan jadi abu yang berserakan di permukaan konblok.

 

– dipasang juga di sini – 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015

kota ini jatuh

kota ini jatuh

 

ke dalam becek

 

tapi tak ada yang keberatan

 

semua tersenyum

 

bersama hujan

 

waria memamerkan paha

 

yang licin berkilat kilat

 

sambil memutar mutar rokok

 

di antara jemari yang kokoh

 

abunya melekat

 

pada rok merah muda

 

kota ini lantai dansa

 

setidaknya trotoar ini

 

gemerlap dan licin

 

sinar laser menembus langit

 

lampu-lampu seperti pelangi

 

ada anak kecil berlari

 

dengan kaki telanjang

 

berpijar

 

seperti cahaya neon

 

kota ini telah minum terlalu banyak

 

dan wajahmu berseri-seri seperti reklame di halte bis

 

 

 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015

pilih sendiri petualanganmu

1

 

rokok telah menjadi puntung. ujungnya meninggalkan kerlip. seperti lampu yang tertangkap bola matamu. sementara vokalis band yang setengah mabuk tak jera berharap bisa mengulang keberhasilan bob marley. padahal penonton tak terlalu peduli selama gelas mereka tetap penuh.

 

2

 

untungnya kamar kecil masih sepi. belum anyir dengan bau muntah. sehingga masih ada cukup ruang untuk sepotong cerita. tentang lelaki yang kemarin menciummu. tanpa alasan.

 

3

 

cermin selalu mengulang kebenaran yang menyakitkan. tak heran tempat seperti ini selalu temaram. yah, setidaknya untuk sementara kenyataan sesuai harapan. keragu-raguan boleh pulang lebih dulu. sikat gigi dan cuci kaki. seperti anak yang dengar-dengaran.

 

4

 

bisikmu masih meninggalkan gaduh, sayang.

 

5

 

dan malam terus menawarkan pilihan. yang satu pasti lebih menyenangkan dari yang lain. tubuh-tubuh harum dan mulut-mulut beraroma bir selalu haus petualangan baru. karena semua ini soal gairah. dan gairah juga soal pilihan.

 

6

 

andaikan ini serial anak-anak kegemaranmu. setiap akhir bisa dikunjungi tanpa sesal. keingintahuan begitu mudah terpenuhi. semudah membalikkan kertas. kalaupun harus mati, itu hanya untuk sementara. setelah itu beli lagi buku terbaru.

 

7

 

gelas-gelas masih menggantung di atas bar. band malam ini mungkin masih sibuk memilih kacamata hitam yang akan melindungi mereka dari wajah-wajah jenuh penonton. matamu pun masih rapat tertutup. bersiap untuk kilap dalam gelap. dan rokok belum menjadi puntung.

 

8

 

ke mana kita malam ini?

 

 

– diambil dari sini