orang orang satu per satu mati

orang orang satu per satu mati. membawa sejarah masing masing ke dalam tidur panjang di dalam kotak atau di dalam lipatan kain. cerita cerita sedih bahagia mimpi mimpi yang pernah jadi kenyataan atau hancur berantakan akhirnya jadi tubuh yang kaku. tubuh itu pernah berdoa hujan tak jadi turun dan doanya dikabulkan. tubuh itu pernah pura pura bisa membaca keras keras buku buku berbahasa inggris. tubuh itu pernah memanjat pohon dan mengamati teman temannya bermain bola di bawah. tubuh itu pernah meniup gelembung gelembung sabun di sebuah taman. tubuh itu pernah naik becak bersama ibunya lalu becak itu terbalik di tikungan. tubuh itu pernah bercinta di loteng, di bawah genteng bolong yang jadi jalan masuk nyamuk nyamuk. tubuh itu pernah dimaki maki karena tidak bisa membayar hutang. tubuh itu pernah merasa sangat bosan. tubuh itu pernah melahirkan banyak anak dan ia mencintai sekaligus membenci mereka. tubuh itu pernah menghabiskan berjam jam di sebuah kedai kopi menulis berlembar lembar puisi yang tak selesai dan tak diketahui siapa siapa. tubuh itu pernah dimaki maki karena tidak bisa lagi memberikan piutang. tubuh itu banyak melakukan pekerjaan rahasia untuk pemerintah. tubuh itu banyak melakukan pekerjaan yang tidak begitu rahasia untuk melawan pemerintah. tubuh itu tidak pernah kenal ayah ibunya. tubuh itu pernah dipijat anaknya semata wayang yang masih kecil dan mereka lalu tertawa terbahak bahak. tubuh itu pernah bergoyang kecil mengikuti irama lagu di sebuah bar yang tak terlalu ramai. tubuh itu pernah menangis ketika menonton serial detektif di televisi. tubuh itu pernah mendapatkan sedikit ketenaran karena menang kejuaraan menyanyi tingkat nasional. tubuh itu pernah melihat anaknya mengamati toko toko dari dalam kereta anak anak di sebuah pusat perbelanjaan dan ia melihat anaknya sepertinya tahu ia tak akan bisa mendapatkan barang barang yang dijual di sana. tubuh itu pernah menanam pohon belimbing. tubuh itu pernah naik kereta api dan melihat pengemis cacat mengepel lantai kereta dengan tangannya. tubuh itu pernah merasa tak berguna. tubuh itu pernah merasa begitu bersalah karena merasa tak berguna. tubuh itu lalu merasa bersalah karena merasa bersalah karena ada orang orang lain yang mempunyai masalah masalah yang lebih penting. tubuh itu pernah marah karena hal hal kecil ketika sebenarnya sedang marah karena hal hal besar. tubuh itu pernah ditinggalkan orang orang yang dicintainya. tubuh itu kini meninggalkan mereka. menjadi tanah gembur entah kapan digusur. menjadi abu di dalam guci. disebar dan bergabung dengan buih di lautan. asapnya meliuk liuk dari cerobong hilang sebelum menyentuh awan.

 

terinspirasi dari buku puisi “the field” karya martin glaz serup, yang beberapa bagiannya kemudian diterjemahkan oleh ratri ninditya

Advertisements

siang itu terik sekali di cikini
bayang bayang daun melambai lambai di trotoar

senyum anak kecil menempel di kaca kafe
tangannya bergerak gerak memberi tanda
ada sesuatu yang akan terjadi

di balik kaca aku menyembunyikan jari jariku
mengetuk ngetuk dudukan sofa berkain merah
tak bisa memutuskan, membuka atau menangkal
air bah yang akan keluar

aku mensyukuri sekaligus mengutuk kaca itu
anak kecil lompat lompat bermain engklek
angin berhembus meniup rambutnya
tapi tawanya tak terdengar dari balik sini

terik sekali di luar,
sayang,

di dalam tak ada perisai bagi gelombang air yang menerobos masuk
menyapu bangku dan meja dan gelas gelas kopi dan piring piring dan toples toples dan
tubuhku mengambang sampai ke langit langit

pagi-pagi suaminya berangkat ke kantor. ia berangkat ke kamar mandi,
mengambil cucian kotor lalu menyortirnya.
pakaian berwarna putih, hitam, terang dan gelap.
yang tumpukannya paling banyak akan dicuci duluan.
kalau sampai memenuhi drum mesin cuci, gunakan 2 tutup deterjen.
ini pekerjaan yang harus dilakukan dengan serius. karena kalau sudah jongkok akan sulit untuk berdiri lagi
dan jongkok kembali.

ia teringat beberapa hari lalu. waktu itu ia sedang di becak bersama anaknya, dalam perjalanan ke sekolah. sudah beberapa hari telinganya budek karena pileknya belum juga selesai. dan suara kendaraan lain yang melesat begitu cepat di sekitar mereka atau membunyikan klakson luar biasa keras membuatnya semakin sulit mendengar suara-suara lain. suara-suara yang lebih enak untuk didengar. ia melihat mulut anaknya dan tangan-tangan mungilnya bergerak-gerak ke sana kemari. dia memang senang bercerita tentang apa saja yang sedang dilihatnya. atau mungkin dia sedang bernyanyi-nyanyi sendiri. ia tersenyum dan membelai kepala anaknya yang besar seperti kepalanya dan suaminya. tapi ia juga tidak ingin berada di becak ini setiap hari. tapi lalu anaknya menoleh dan tersenyum.

senyum adalah perkara yang serius,
katanya sambil mengamati kemeja dan beha berputar-putar di balik pintu mesin cuci.
sebuah senyuman yang begitu polos, sederhana sehingga begitu berharga dan tak mungkin akan ia lupakan sampai ia mati nanti,
telah dibayar dengan pagi-pagi seperti ini.

gedung gedung baru

gedung gedung baru
berdiri di jalan jalan usang

petak petak yang kukenal
lengang dan berdebu

kursi
meja
senyum ramah

tak lagi pas
di dalam ingatan

lahan lahan
asing

sementara wajah teman temanku
tiba tiba makin tua

ke mana kalian pergi?
di mana sebenarnya aku terdampar?

 

ditulis pertama kali di tahun 2005, sempat diubah tahun 2007 dan akhirnya diacak-acak menjadi seperti di atas di tahun 2015

ini jakarta bukan tengkyu

ini bukan lagi saatnya bertanya
ke mana malam akan membawamu

malam tak membawa siapa siapa ke mana mana
toh ke mana mana seringkali bukan pilihan

bulan, neon dan lampu lampu petromaks
menyala sendiri sendiri

hisap saja rokokmu
mainkan gitarmu
lupakan keringat yang sudah lama
meninggalkan harum di badan

orang orang yang masih terjaga dan tersenyum
di balik piramida piramida duren di pinggir jalan
di warung warung yang menjual steak mahal tapi keras seperti sendal
di pelataran gedung kesenian yang penuh abu rokok dan tumpahan bir
di dalam mobil cicilan yang akhirnya lunas
bertanya tanya mengapa kawan kawan mereka tak bisa melihat kota ini
apa adanya

ah, mereka pasti bercanda

ketika kamu menyembunyikan wajahmu di balik bayangan pohon pohon yang berbaris di trotoar

kadang kadang mereka lupa
yang menggerakkan kota ini
yang membuat mereka pulang
ke kasur masing masing

“bukan tengkyu,

tiga ribu,
bos!”

 

untuk Mikael Johani dan Waraney Herald Rawung