jalan sabang bising

siang ini, suara suara di jalan sabang terdengar sedikit terlalu bising. lift yang hanya mampu mengangkut tiga orang juga harus mendongeng. ia bisa mati kapan saja, mungkin sulit untuk hidup kembali. di antara makan siang pun ada tangga rahasia yang jadi tempat tinggal kucing. jangan sentuh pegangannya, tak ada yang tahu siapa lagi yang pernah ke sana. mungkin sudah jadi perkampungan peri-peri bakteri yang tak kelihatan. karena di pinggir jalan ada perempuan yang menutup hidungnya di depan seven eleven. agak kurang sopan menurutku karena tak ada bau. tapi aku tak bisa lagi mencium bau. dan di pinggir jalan pula ada laki-laki yang mengencingi pagar seng. sangat tidak sopan menurutku karena aku bisa melihatnya, walaupun bis bis dari garut yang bersiap siap menuju istiqlal parkir berderet deret di belakangnya. teman-temannya tertawa melihat kami lewat, sementara di lantai dua saudagar kopi ada diskusi mengenai politik identitas. dadaku nyeri memuat sejarah yang sepotong-sepotong. memotong-motong hidup yang selalu berakhir. menit yang lalu sudah bisa dilupakan atau dijadikan kenangan. mengubur milyaran menit terdahulu yang ingin kugali dan rangkai sehingga menjadi sesuatu yang bisa kunamakan asal usulku. banyak yang tidak kumengerti, banyak yang kukira kumengerti. tapi perasaanku mengatakan hari ini bukan saatnya. apa pun itu sudah keburu terlindas kendaraan kendaraan yang lalu lalang. la la la lu la la lang. dan kita hidup bahagia selama kita bisa.

Advertisements

(sebentar lagi tahun ini akan pergi – versi 1)

sebentar lagi tahun ini akan pergi 
seperti tahun tahun kemarin 
     di pondok lestari 

kotak kotak memori bertumpuk tumpuk
tak berlabel tak diselotip 

rumah tak bertuan tak bertamu 
piring piring tengkurap di dapur 

tapi ruang tamuku masih seperti tahun lalu 
ada sepasang lilin wangi, satu pernah dicium api 

kembang api terburai burai   
jaemanis digendong oom doni, 
hup! sebentar lagi alna datang   
hanya malam ini tante tante oom oom 
bermain seperti anak anak kecil 

terompet toet toet 
sorak sorai pecah di balkon 
berdiri empat orang saja sekarang 
nenek, ayah, ibu dan anak 
     di pondok lestari 

dulu kita disebut apa? 
  
dua anak perempuan memanjat pohon 
di halaman sebuah rumah 
     di pinggir rel stasiun cilebut 

bagai peri peri dari negeri tanpa waktu 
kereta ini melesat begitu saja  

hari hari tak bertanggal pergi berlibur 
menyulam yang telah lewat dengan yang belum terjadi

di mana aku di antara benang dan jarum 
di dalam kotak kotak bertempelkan post-it notes 
di dalam buku buku panduan pindahan 
dan bagaimana hidup dengan pasangan yang sedang sakit 
atau krim yang menempel di tanganku 
     di kota yang dulu pernah disebut buitenzorg 

sudah sampai belum? 

gambar gambar tak bersuara
orang orang tak bersuara
wajah wajah di kaca spion
kendaraan kendaraan di jendela toko 
anak kecil bertanya ada berapa titik hujan di kaca jendela mobil 
     sambil melambai pada lampu carrefour yang mengabur

(sebentar lagi tahun ini akan pergi – versi 2)

dua anak perempuan memanjat pohon
di halaman sebuah rumah
     di pinggir rel stasiun cilebut

bagai peri peri dari negeri tanpa waktu
kereta ini melesat begitu saja 

hari hari tak bertanggal pergi berlibur
menyulam yang telah lewat dengan yang belum terjadi

di mana aku di antara benang dan jarum
di dalam kotak kotak bertempelkan post-it notes
di dalam buku buku panduan pindahan
dan bagaimana hidup dengan pasangan yang sedang sakit
atau krim yang menempel di tanganku
     di kota yang dulu pernah disebut buitenzorg

dulu kita disebut apa?

sebentar lagi tahun ini akan pergi
seperti tahun tahun kemarin
     di pondok lestari

kotak kotak memori bertumpuk tumpuk
tak berlabel tak diselotip

rumah tak bertuan tak bertamu
piring piring tengkurap di dapur

tapi ruang tamuku masih seperti tahun lalu
ada sepasang lilin wangi, satu pernah dicium api

kembang api terburai burai  
jaemanis digendong oom doni,
hup! sebentar lagi alna datang  
hanya malam ini tante tante oom oom
bermain seperti anak anak kecil

terompet toet toet
sorak sorai pecah di balkon

berdiri empat orang saja sekarang
nenek, ayah, ibu dan anak
     di pondok lestari

dulu kita disebut apa?

gambar gambar tak bersuara
orang orang tak bersuara
wajah wajah di kaca spion
kendaraan kendaraan di jendela toko
anak kecil bertanya ada berapa titik hujan di kaca jendela mobil
     sambil melambai pada lampu carrefour yang mengabur