masuk angin

mengejar ujung selendang yang hampir lenyap berkelepak kelepak dibawa angin ke balik pohon sebelum akhirnya hilang di antara awan awan yang membawa hujan dan malam dingin membuatku mual

asap bakaran sate membawaku kembali ke jalanan kota ini kubuka payung dan kurasakan jari jari kakiku diciprati titik titik hujan yang bercampur air kubangan di trotoar tempatku berdiri

makan malam terbungkus plastik adalah makan malam banyak orang di sini di bawah neon atau lampu petromaks di dalam kamar kos atau di bawah tenda di dalam metromini atau alphard plastik adalah plastik

jalan jalan ramai telah lama pasrah akan dianggap lelah atau tetap gembira menanggung segala permasalahan orang orang yang tak kunjung berhenti lalu lalang melindas punggungnya yang berkerikil

tanah ini milik tuhan bukan juragan kata sebuah tembok di gang sempit di dasarnya batu batu hancur berserakan bekas warung warung makan yang dibongkar paksa walaupun mereka selalu muncul lagi mungkin bukan karena semata mata pantang menyerah tapi apakah ada usul lain yang lebih baik?

kadang kadang akan ada yang terpanggil untuk menyusun kembali batu batu itu sehingga kota ini terasa lebih dari deretan kesedihan yang memukau dan orang orang di dalamnya menjadi lebih manusia bukan tuhan bukan juragan

tapi sejujurnya ini mungkin sate dan lontong paling kompleks yang pernah kumakan hanya karena kepalaku tidak bisa berhenti mencoba menerjemahkan angin asap dan hal hal yang tidak pernah bisa kugenggam

ketika lampu lampu kota lebih gembira daripada orang orangnya ketika lampu lampu kota lebih ramai daripada bintang sebaik baiknya aku berusaha menangkap selendang yang hilang ditelan langit yang selalu kelabu ini akhirnya aku hanya akan masuk angin

ini jakarta bukan tengkyu

ini bukan lagi saatnya bertanya
ke mana malam akan membawamu

malam tak membawa siapa siapa ke mana mana
toh ke mana mana seringkali bukan pilihan

bulan, neon dan lampu lampu petromaks
menyala sendiri sendiri

hisap saja rokokmu
mainkan gitarmu
lupakan keringat yang sudah lama
meninggalkan harum di badan

orang orang yang masih terjaga dan tersenyum
di balik piramida piramida duren di pinggir jalan
di warung warung yang menjual steak mahal tapi keras seperti sendal
di pelataran gedung kesenian yang penuh abu rokok dan tumpahan bir
di dalam mobil cicilan yang akhirnya lunas
bertanya tanya mengapa kawan kawan mereka tak bisa melihat kota ini
apa adanya

ah, mereka pasti bercanda

ketika kamu menyembunyikan wajahmu di balik bayangan pohon pohon yang berbaris di trotoar

kadang kadang mereka lupa
yang menggerakkan kota ini
yang membuat mereka pulang
ke kasur masing masing

“bukan tengkyu,

tiga ribu,
bos!”

 

untuk Mikael Johani dan Waraney Herald Rawung

kota ini jatuh

kota ini jatuh

 

ke dalam becek

 

tapi tak ada yang keberatan

 

semua tersenyum

 

bersama hujan

 

waria memamerkan paha

 

yang licin berkilat kilat

 

sambil memutar mutar rokok

 

di antara jemari yang kokoh

 

abunya melekat

 

pada rok merah muda

 

kota ini lantai dansa

 

setidaknya trotoar ini

 

gemerlap dan licin

 

sinar laser menembus langit

 

lampu-lampu seperti pelangi

 

ada anak kecil berlari

 

dengan kaki telanjang

 

berpijar

 

seperti cahaya neon

 

kota ini telah minum terlalu banyak

 

dan wajahmu berseri-seri seperti reklame di halte bis

 

 

 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015