dari sabang sampai ciledug raya

perempuan muda menumpang duduk di meja paling depan warung sate yang belum buka. telepon genggam menempel di telinganya dan mulutnya komat-kamit.

ibu memasukkan lembaran uang kembalian ke dalam dompetnya di depan warung teh botol. sebotol frestea dikempit di antara paha berlegging hitam.

bapak bertopi berdiri di tepi jalan. menunggu kendaraan yang lewat berkurang supaya dia bisa menyeberang. dari bawah topinya rambut pink pudar menyembul.

anak anak bermain bulutangkis di sebuah tanjakan di mulut sebuah gang sempit. palang bambu diletakkan di atas motor dan mobil bak supaya menyerupai net.

sekelompok perempuan bersila di depan pagar sebuah rumah mewah.

pekerja bangunan mengerubungi perempuan yang membawa makan siang dengan sepeda.

supir taksi mendengar dakwah dari kaset. tasbih tergantung di kaca spion dalam. kepalanya mengangguk angguk.

aku teringat nenek yang setiap hari minggu menyanyi di depan jemaat. suaranya lebih tangguh daripada tubuhnya.

dan tiang tiang beton terpancang
seperti salib
tanpa kepala
tanpa tubuh

pembangunan masih jauh dari selesai
hujan debu menyumbat pori pori
menyumpal paru paru

ke mana lagi kau mau memandang?

sekarang mungkin mereka sudah mati
padahal stasiun belum jadi

yang tak pernah ketemu

apa yang kau cari di siang seperti ini ketika gerai-gerai makanan cepat saji riuh rendah oleh piring-piring yang bersentuhan dengan nampan dan orang-orang kelaparan yang begitu kikuk menggunakan pisau dengan garpu, oleh cerita-cerita tentang hari yang baru setengah berjalan sementara pengeras suara mengumandangkan lagu-lagu pop yang katanya lokal tapi sebenarnya hanya mengulang kejayaan lagu-lagu barat, oleh bermacam-macam bunyi lain yang selalu terdengar salah di telingamu dan selalu saja kau cemooh, oh, mungkin karena mejamu terlampau

sunyi

?