masuk angin

mengejar ujung selendang yang hampir lenyap berkelepak kelepak dibawa angin ke balik pohon sebelum akhirnya hilang di antara awan awan yang membawa hujan dan malam dingin membuatku mual

asap bakaran sate membawaku kembali ke jalanan kota ini kubuka payung dan kurasakan jari jari kakiku diciprati titik titik hujan yang bercampur air kubangan di trotoar tempatku berdiri

makan malam terbungkus plastik adalah makan malam banyak orang di sini di bawah neon atau lampu petromaks di dalam kamar kos atau di bawah tenda di dalam metromini atau alphard plastik adalah plastik

jalan jalan ramai telah lama pasrah akan dianggap lelah atau tetap gembira menanggung segala permasalahan orang orang yang tak kunjung berhenti lalu lalang melindas punggungnya yang berkerikil

tanah ini milik tuhan bukan juragan kata sebuah tembok di gang sempit di dasarnya batu batu hancur berserakan bekas warung warung makan yang dibongkar paksa walaupun mereka selalu muncul lagi mungkin bukan karena semata mata pantang menyerah tapi apakah ada usul lain yang lebih baik?

kadang kadang akan ada yang terpanggil untuk menyusun kembali batu batu itu sehingga kota ini terasa lebih dari deretan kesedihan yang memukau dan orang orang di dalamnya menjadi lebih manusia bukan tuhan bukan juragan

tapi sejujurnya ini mungkin sate dan lontong paling kompleks yang pernah kumakan hanya karena kepalaku tidak bisa berhenti mencoba menerjemahkan angin asap dan hal hal yang tidak pernah bisa kugenggam

ketika lampu lampu kota lebih gembira daripada orang orangnya ketika lampu lampu kota lebih ramai daripada bintang sebaik baiknya aku berusaha menangkap selendang yang hilang ditelan langit yang selalu kelabu ini akhirnya aku hanya akan masuk angin

Advertisements

siang itu terik sekali di cikini
bayang bayang daun melambai lambai di trotoar

senyum anak kecil menempel di kaca kafe
tangannya bergerak gerak memberi tanda
ada sesuatu yang akan terjadi

di balik kaca aku menyembunyikan jari jariku
mengetuk ngetuk dudukan sofa berkain merah
tak bisa memutuskan, membuka atau menangkal
air bah yang akan keluar

aku mensyukuri sekaligus mengutuk kaca itu
anak kecil lompat lompat bermain engklek
angin berhembus meniup rambutnya
tapi tawanya tak terdengar dari balik sini

terik sekali di luar,
sayang,

di dalam tak ada perisai bagi gelombang air yang menerobos masuk
menyapu bangku dan meja dan gelas gelas kopi dan piring piring dan toples toples dan
tubuhku mengambang sampai ke langit langit

berita hari ini

seperti berdendang
mengikuti nada-nada klise sebuah lagu pop yang terlalu populer
lalu kau gigit bibirmu sendiri

hari ini matahariku terik, sayang. begitu terik sehingga hujan pun tak mampu mengusirnya ke balik awan. kulihat rintik-rintiknya menari di balik jendela dapurku, berkilauan di bawah langit biru. sementara di balik jendela ruang makan, pelangi membentang gagah. membuat tetangga-tetanggaku berteriak kegirangan sambil mengeluarkan kamera. tetapi aku,

aku

duduk diam menghadapi sepiring nasi berlauk daging sapi yang ceria ditemani paprika merah hijau dan biji-biji tauco. aku rasa aku sudah terlalu kenyang. kenyang karena menelan bulat-bulat rentetan kata yang dulu sering kucerna; bukan karena aku mau, tapi karena aku ternyata telah berbincang dengan orang-orang yang salah. ah, berita jaman dulu yang dengan begitu ajaib menemukan jalannya untuk termuat di koran hari ini. pikirku,

persetan

dengan semua itu. memang, tidak ada yang baru di bawah matahari. juga pelangi. karena hujan selalu turun, tak peduli apakah hari terik atau tidak. hujan orang mati, katanya. ya, orang-orang memang harus mati satu per satu. bedanya, ada yang ditangisi ada yang tidak. ah,

apa hubungannya dengan makananku?

maaf, aku tak mau lagi menghabiskannya. lidahku bilang, semua sudah basi. dan yang basi harus masuk tempat sampah. bersama koran yang melulu mendramatisasi kisah hidup selebriti sampai-sampai yang membaca bisa lupa kalau yang seperti itu juga bisa ditemukan di rumah sebelah, atau malahan di kepalanya sendiri. atau parahnya lagi, terlalu sering melahap yang basi juga bisa membuat orang lupa untuk membuangnya. akhirnya, merasa seperti selebriti dan pantas jadi berita. berita basi. ha ha ha. dan orang-orang sepertiku terpaksa kembali lagi makan makanan basi. ha ha ha. aku memang harus diet dan berhenti langganan koran.

seperti berdendang
mengikuti nada-nada klise sebuah lagu pop yang terlalu populer
lalu pingsan

 
– diambil dari sini, dengan sedikit modifikasi –