pagi-pagi suaminya berangkat ke kantor. ia berangkat ke kamar mandi,
mengambil cucian kotor lalu menyortirnya.
pakaian berwarna putih, hitam, terang dan gelap.
yang tumpukannya paling banyak akan dicuci duluan.
kalau sampai memenuhi drum mesin cuci, gunakan 2 tutup deterjen.
ini pekerjaan yang harus dilakukan dengan serius. karena kalau sudah jongkok akan sulit untuk berdiri lagi
dan jongkok kembali.

ia teringat beberapa hari lalu. waktu itu ia sedang di becak bersama anaknya, dalam perjalanan ke sekolah. sudah beberapa hari telinganya budek karena pileknya belum juga selesai. dan suara kendaraan lain yang melesat begitu cepat di sekitar mereka atau membunyikan klakson luar biasa keras membuatnya semakin sulit mendengar suara-suara lain. suara-suara yang lebih enak untuk didengar. ia melihat mulut anaknya dan tangan-tangan mungilnya bergerak-gerak ke sana kemari. dia memang senang bercerita tentang apa saja yang sedang dilihatnya. atau mungkin dia sedang bernyanyi-nyanyi sendiri. ia tersenyum dan membelai kepala anaknya yang besar seperti kepalanya dan suaminya. tapi ia juga tidak ingin berada di becak ini setiap hari. tapi lalu anaknya menoleh dan tersenyum.

senyum adalah perkara yang serius,
katanya sambil mengamati kemeja dan beha berputar-putar di balik pintu mesin cuci.
sebuah senyuman yang begitu polos, sederhana sehingga begitu berharga dan tak mungkin akan ia lupakan sampai ia mati nanti,
telah dibayar dengan pagi-pagi seperti ini.

dari balik jendela

1

matahari terbit di jendela sevel, berkilau di layar ponsel
ini hari apa? tak ada lagi yang bertanya
hidup kini bergantung pada rima tentang yang trendi dan berkuasa
siapa kamu? tak ada lagi yang peduli

2

balita di dalam kopaja tersenyum pada angkot dan pasar di balik jendela. siang ini penuh dengan semangat yang sia-sia. semua ingin menunda yang tak terhindarkan. semoga hari-harinya tak seperti amplop yang berisi tagihan kartu kredit.

3

ada kegembiraan di jalan-jalan. lampu-lampu bersinar lebih terang. klakson terdengar meriah, bukan tak sabar. karena kemacetan ini hanya sekadar antrian ke tempat yang sama. di mana semua bisa dibeli dan membeli. walaupun hanya malam ini.

4

tukang bajaj tadi mengingatkanku kalau adalah penting mempunyai dunia kecilmu sendiri, di mana semua yang (kebetulan) ada di dalamnya harus mengikuti tata cara yang sudah kau buat. di mana semua yang sudah kau buat itu adalah baik adanya. saling melengkapi dan bisa menghidupi satu sama lain. di mana semua berjalan begitu alami dan sempurna tak ada yang bisa mengganggumu. dan di mana tak ada yang bisa dengan sengaja membuatmu merasa kecurian. dan lagu-lagu dangdut favoritnya mengantarkanku menembus kota yang keringatnya berlelehan ke dalam kali berwarna hitam.

5

ya, bukankah kota ini gerbong yang bergoyang. sampaikan salam pada kekasih, karena aku belum juga tiba.

 

 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015