titik titik lampu merah dan hijau di permukaan kaosmu

titik titik lampu merah dan hijau
di permukaan kaosmu
kuikuti dengan telunjuk

di sebelah lemari tua sepasang pelayan muda
sembunyi sembunyi berpegangan tangan

dari meja ke meja perempuan berkaki jenjang
menawarkan rokok putih sambil tersenyum

lalu aku melihatnya memalingkan wajah
menyembunyikan sejenak
bosan yang menyerang

tidak ada lagi kemarahan yang terlalu penting
tidak ada lagi kesedihan yang terlalu penting

kini semua bisa sembuh dengan cipika cipiki
rajin yoga dan update status facebook

kawan kawanmu datang
mengelilingi meja penuh botol
gelas gelas sloki keripik dan keju

tak lama lagi pergi
tak pernah kembali

bayangan botol dan gelas kosong jatuh di lenganmu,
seperti peninggalan dari abad yang lalu

belajarlah dari iklan televisi dan papan reklame
gantungkan mimpi setinggi panggung idola

sudah saatnya pulang,
bajaj langganan menunggu di depan

masuk angin

mengejar ujung selendang yang hampir lenyap berkelepak kelepak dibawa angin ke balik pohon sebelum akhirnya hilang di antara awan awan yang membawa hujan dan malam dingin membuatku mual

asap bakaran sate membawaku kembali ke jalanan kota ini kubuka payung dan kurasakan jari jari kakiku diciprati titik titik hujan yang bercampur air kubangan di trotoar tempatku berdiri

makan malam terbungkus plastik adalah makan malam banyak orang di sini di bawah neon atau lampu petromaks di dalam kamar kos atau di bawah tenda di dalam metromini atau alphard plastik adalah plastik

jalan jalan ramai telah lama pasrah akan dianggap lelah atau tetap gembira menanggung segala permasalahan orang orang yang tak kunjung berhenti lalu lalang melindas punggungnya yang berkerikil

tanah ini milik tuhan bukan juragan kata sebuah tembok di gang sempit di dasarnya batu batu hancur berserakan bekas warung warung makan yang dibongkar paksa walaupun mereka selalu muncul lagi mungkin bukan karena semata mata pantang menyerah tapi apakah ada usul lain yang lebih baik?

kadang kadang akan ada yang terpanggil untuk menyusun kembali batu batu itu sehingga kota ini terasa lebih dari deretan kesedihan yang memukau dan orang orang di dalamnya menjadi lebih manusia bukan tuhan bukan juragan

tapi sejujurnya ini mungkin sate dan lontong paling kompleks yang pernah kumakan hanya karena kepalaku tidak bisa berhenti mencoba menerjemahkan angin asap dan hal hal yang tidak pernah bisa kugenggam

ketika lampu lampu kota lebih gembira daripada orang orangnya ketika lampu lampu kota lebih ramai daripada bintang sebaik baiknya aku berusaha menangkap selendang yang hilang ditelan langit yang selalu kelabu ini akhirnya aku hanya akan masuk angin

hujan dan burung kertas

hujan turun lagi malam ini. asap yang keluar dari mulutku tak pergi jauh. mengerubungi kepala seperti burung-burung kertas. seorang laki-laki yang memakai baju perempuan memetik gitar di seberang jalan tapi suaranya tak sampai ke sini. motor dan mobil berkejaran di atas aspal yang mulai bolong-bolong. menciptakan bayang-bayang yang berkelebat di antara deretan ruko dan gerobak-gerobak penjual buah di pinggir jalan. di sini, di bawah lampu jalan dan papan iklan, kesedihan tak sempat lagi ditangisi. seorang laki-laki yang memakai baju perempuan menyalakan rokoknya. ini segelas kopi hitam, kata sebuah suara entah dari kepala siapa. tak lama lagi, hujan dan burung kertas akan jadi abu yang berserakan di permukaan konblok.

 

– dipasang juga di sini – 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015

tengah malam terjaga dan terpaksa ke kamar mandi
ada suara renyah anakku bertanya kepada mbaknya
nanti habis makan jae nonton dulu ditemenin mbak
terus kalau mama sudah selesai masak mama ceritain jae
ya kan mbak?

di samping toilet ada bungkus shampoo
belum seluruh isinya dipindahkan ke botol

air mengucur dari keran membuatku kaget
suatu hari nanti aku tidak akan lagi membelikanmu shampoo

buru-buru aku kembali ke ranjang masuk ke dalam selimut
suatu hari nanti aku bahkan tidak akan mengerti apa yang kau katakan
nanti habis makan jae nonton dulu ditemenin mbak
terus kalau mama sudah selesai masak mama ceritain jae
ya kan mbak?

anakku bergerak-gerak di sebelah,
kakinya mendarat di atas perutku

ada perasaan yang akan hilang,
ada juga yang terus berulang

ini bukan kesedihan yang tak kuketahui namanya
tapi di antara mimpi-mimpi yang terputus,
tengah malam terjaga dan terpaksa ke kamar mandi,
malam ini tiba-tiba terasa terlalu tenang
ya kan ma?

bau matahari pada seragam sekolah. suara ac dan kerai yang terbuka. kesedihan masih muda di dalam buku harian dan tugas-tugas yang belum selesai. menunggu kapan dering telepon akan berarti. hampir tak menyadari apa sebenarnya yang begitu diinginkan.

sambil menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur, ia membayangkan pasti di luar sana ada bahaya-bahaya yang mengasyikkan. yang tidak akan membuatnya celaka karena ia akan begitu lincah dan cerdik seperti fantomette. mungkin sekali-sekali ia akan menangis tapi air matanya akan lebih bulat dan hangat dibanding yang meleleh di wajahnya siang itu.

tempat tidur itu belum mengenal ompol anakku.