masuk angin

mengejar ujung selendang yang hampir lenyap berkelepak kelepak dibawa angin ke balik pohon sebelum akhirnya hilang di antara awan awan yang membawa hujan dan malam dingin membuatku mual

asap bakaran sate membawaku kembali ke jalanan kota ini kubuka payung dan kurasakan jari jari kakiku diciprati titik titik hujan yang bercampur air kubangan di trotoar tempatku berdiri

makan malam terbungkus plastik adalah makan malam banyak orang di sini di bawah neon atau lampu petromaks di dalam kamar kos atau di bawah tenda di dalam metromini atau alphard plastik adalah plastik

jalan jalan ramai telah lama pasrah akan dianggap lelah atau tetap gembira menanggung segala permasalahan orang orang yang tak kunjung berhenti lalu lalang melindas punggungnya yang berkerikil

tanah ini milik tuhan bukan juragan kata sebuah tembok di gang sempit di dasarnya batu batu hancur berserakan bekas warung warung makan yang dibongkar paksa walaupun mereka selalu muncul lagi mungkin bukan karena semata mata pantang menyerah tapi apakah ada usul lain yang lebih baik?

kadang kadang akan ada yang terpanggil untuk menyusun kembali batu batu itu sehingga kota ini terasa lebih dari deretan kesedihan yang memukau dan orang orang di dalamnya menjadi lebih manusia bukan tuhan bukan juragan

tapi sejujurnya ini mungkin sate dan lontong paling kompleks yang pernah kumakan hanya karena kepalaku tidak bisa berhenti mencoba menerjemahkan angin asap dan hal hal yang tidak pernah bisa kugenggam

ketika lampu lampu kota lebih gembira daripada orang orangnya ketika lampu lampu kota lebih ramai daripada bintang sebaik baiknya aku berusaha menangkap selendang yang hilang ditelan langit yang selalu kelabu ini akhirnya aku hanya akan masuk angin

Advertisements
pagi-pagi suaminya berangkat ke kantor. ia berangkat ke kamar mandi,
mengambil cucian kotor lalu menyortirnya.
pakaian berwarna putih, hitam, terang dan gelap.
yang tumpukannya paling banyak akan dicuci duluan.
kalau sampai memenuhi drum mesin cuci, gunakan 2 tutup deterjen.
ini pekerjaan yang harus dilakukan dengan serius. karena kalau sudah jongkok akan sulit untuk berdiri lagi
dan jongkok kembali.

ia teringat beberapa hari lalu. waktu itu ia sedang di becak bersama anaknya, dalam perjalanan ke sekolah. sudah beberapa hari telinganya budek karena pileknya belum juga selesai. dan suara kendaraan lain yang melesat begitu cepat di sekitar mereka atau membunyikan klakson luar biasa keras membuatnya semakin sulit mendengar suara-suara lain. suara-suara yang lebih enak untuk didengar. ia melihat mulut anaknya dan tangan-tangan mungilnya bergerak-gerak ke sana kemari. dia memang senang bercerita tentang apa saja yang sedang dilihatnya. atau mungkin dia sedang bernyanyi-nyanyi sendiri. ia tersenyum dan membelai kepala anaknya yang besar seperti kepalanya dan suaminya. tapi ia juga tidak ingin berada di becak ini setiap hari. tapi lalu anaknya menoleh dan tersenyum.

senyum adalah perkara yang serius,
katanya sambil mengamati kemeja dan beha berputar-putar di balik pintu mesin cuci.
sebuah senyuman yang begitu polos, sederhana sehingga begitu berharga dan tak mungkin akan ia lupakan sampai ia mati nanti,
telah dibayar dengan pagi-pagi seperti ini.

berita hari ini

seperti berdendang
mengikuti nada-nada klise sebuah lagu pop yang terlalu populer
lalu kau gigit bibirmu sendiri

hari ini matahariku terik, sayang. begitu terik sehingga hujan pun tak mampu mengusirnya ke balik awan. kulihat rintik-rintiknya menari di balik jendela dapurku, berkilauan di bawah langit biru. sementara di balik jendela ruang makan, pelangi membentang gagah. membuat tetangga-tetanggaku berteriak kegirangan sambil mengeluarkan kamera. tetapi aku,

aku

duduk diam menghadapi sepiring nasi berlauk daging sapi yang ceria ditemani paprika merah hijau dan biji-biji tauco. aku rasa aku sudah terlalu kenyang. kenyang karena menelan bulat-bulat rentetan kata yang dulu sering kucerna; bukan karena aku mau, tapi karena aku ternyata telah berbincang dengan orang-orang yang salah. ah, berita jaman dulu yang dengan begitu ajaib menemukan jalannya untuk termuat di koran hari ini. pikirku,

persetan

dengan semua itu. memang, tidak ada yang baru di bawah matahari. juga pelangi. karena hujan selalu turun, tak peduli apakah hari terik atau tidak. hujan orang mati, katanya. ya, orang-orang memang harus mati satu per satu. bedanya, ada yang ditangisi ada yang tidak. ah,

apa hubungannya dengan makananku?

maaf, aku tak mau lagi menghabiskannya. lidahku bilang, semua sudah basi. dan yang basi harus masuk tempat sampah. bersama koran yang melulu mendramatisasi kisah hidup selebriti sampai-sampai yang membaca bisa lupa kalau yang seperti itu juga bisa ditemukan di rumah sebelah, atau malahan di kepalanya sendiri. atau parahnya lagi, terlalu sering melahap yang basi juga bisa membuat orang lupa untuk membuangnya. akhirnya, merasa seperti selebriti dan pantas jadi berita. berita basi. ha ha ha. dan orang-orang sepertiku terpaksa kembali lagi makan makanan basi. ha ha ha. aku memang harus diet dan berhenti langganan koran.

seperti berdendang
mengikuti nada-nada klise sebuah lagu pop yang terlalu populer
lalu pingsan

 
– diambil dari sini, dengan sedikit modifikasi –