kertas kertas menumpuk di atas meja
selembar demi selembar masuk ke dalam mesin penghancur kertas

aku memang ingin membuat kehancuran
sambil mengisi tabel perbandingan harga sayur mayur

jangan sampai kau membayar lebih mahal
ibu rumah tangga yang baik harus bijaksana membelanjakan gaji suami

buku buku yang tak selesai dibaca berdebu di pojok kamar
bukan salah siapa siapa selain diri sendiri

mana obat tetes mata dan krim pelembab
saatnya tidur pakai daster tua

kita lanjutkan lagi besok pagi
mesin penghancur kertas terdengar begitu teratur

mendengkur di dalam telinga

di hari kenaikan kelas yang gembira ini,
lagu-lagu bersemangat keluar dari speaker.
bapak-bapak ibu-ibu duduk rapi di kursi yang berjejer.
ada yang sesekali mengecek jualan tas kw di grup bbm,
berbisik-bisik di telepon genggam memundurkan jadwal ketemu teman lama,
sekalian buka puasa bersama gimana?
atau bertanya ke yang duduk di sebelahnya,
nanti anaknya sd tetap di sini atau pindah?
atau diam saja karena tak banyak kenal dengan yang lain.

lalu kepala sekolah memberi sambutan tanda dimulainya acara.
dan anak-anak bergiliran tampil di panggung,
menyanyi, menari, menabuh genderang,
memakai kostum binatang yang menggemaskan.
oh, begitu pintarnya mereka.
begitu kecil, juga begitu cepat besar.
entah apa lagi yang akan bisa mereka lakukan nanti.

lalu tiba saatnya para orang tua antri di depan kelas
untuk menerima laporan perkembangan anak-anak mereka di tahun ajaran yang baru lewat,
sementara anak-anak lompat-lompat berlarian,
bergantian naik ayunan atau bergelantungan di flying fox yang sudah karatan.
atau duduk berdua-dua bertiga-tiga
mendandani wajah boneka, memencet jerawat atau mengusir kuman yang terselip di gigi sapi
sambil memandangi layar tablet yang bersinar-sinar seperti mercusuar.
ini mungkin yang namanya bermain sambil berlatih keterampilan untuk bertahan hidup di kemudian hari.

di hari yang begitu riuh rendah,
hari yang penuh harapan akan masa depan yang cerah,
apakah masih ada yang bisa membaca ketakutan,
keraguan,
ketidaktahuan,
yang hati-hati disembunyikan
di dalam kotak berdebu,
dilipat-lipat di pojok lemari tua,
terselip di sarung bantal,
ditinggal,
agar lekas dilupakan,
di rumah yang dijaga pembantu,
mulutnya terbuka di atas sofa?

tadi malam begadang nonton film drama iran dengan suami. sebelumnya film horor korea. dan pagi ini mengantar anak kartinian di sekolah. anakku sangat patuh selama dirias. dan selama memakai baju adat sunda penuh manik-manik, ia benar-benar berlagak seperti putri. bicara dengan suara rendah, bahkan hampir tak berbicara. berjalan dengan anggun sambil mengangkat sedikit roknya supaya tidak terselengkat. dan, entah dapat ilham dari mana, hanya melirik tidak menoleh. tapi begitu acara selesai, ia berubah lagi jadi monster kecil badung yang bikin ibunya naik darah. aku tidak suka harus bolak-balik marah untuk hal yang sama. apalagi di saat-saat aku tidak menyangka aku perlu marah. apalagi dengan hidung dan tenggorokan gatal seperti ini. sementara rumah masih berantakan karena si mbak pun gantian kena flu. aku juga tidak suka merasa bersalah, tidak, merasa akan disalahkan masyarakat yang sebagian besar tidak mengenalku karena rasanya sekarang aku ingin membanting pintu dan mengunci diri di kamar. menunggu anakku akhirnya merengek minta dimaafkan. lalu aku akan keluar, memeluknya sambil minta maaf kalau aku sudah menggunakan suara keras tapi juga menjelaskan kenapa aku sampai marah dan kenapa ia perlu melakukan yang aku minta. lalu dia akan tersenyum dan memelukku, seperti anak koala yang menggemaskan. lalu tulisan ini kusimpan saja, tidak pernah kuperlihatkan kepada siapa-siapa. lalu nanti melelehkan air mata melihat foto-foto anakku jadi putri sunda. dan suatu hari nanti tiba-tiba menangis diam-diam saat nonton film komedi.

ada lampu bersinar merah di kejauhan sana
berpendar-pendar di balik tirai tembus pandang

anak kecil duduk di belakang ibunya
di kursi makan yang sama
bernyanyi tut tut tut siapa hendak turut

aku mencoba mengingat sinar lampu apa itu di kejauhan sana

mama jangan marah
kata anak kecil kepada ibunya