ikat

lembar lembar jaringan ikat melilit tengkorak tengkorak
menjadi dahi menjadi hidung menjadi pipi menjadi telinga
membentuk kornea sampai ke retina sampai ke saraf optik
irisnya berwarna cokelat tua
mengendarai mesin mesin,
di dalam mesin mesin

halogen merampas cahaya dari matahari yang tenggelam
memantulkan kilat kilat serupa bintang
bercampur debu

dari debu kembali menjadi debu bahkan namanya pun pudar dari pualam di malam hari ketika sepasang remaja bercumbu malu malu di atas batu yang seperti tempat tidur di sebelah motor yang tak lagi meraung tak jauh dari tukang gorengan dan penjual kopi keliling

mata mereka lepas dahi mereka kempis hidung mereka runtuh pipi mereka lebur telinga mereka copot lembar lembar jaringan ikat lolos otot otot mengendur lepas dari tulang tulang mengering ditelan bumi

dari sabang sampai ciledug raya

perempuan muda menumpang duduk di meja paling depan warung sate yang belum buka. telepon genggam menempel di telinganya dan mulutnya komat-kamit.

ibu memasukkan lembaran uang kembalian ke dalam dompetnya di depan warung teh botol. sebotol frestea dikempit di antara paha berlegging hitam.

bapak bertopi berdiri di tepi jalan. menunggu kendaraan yang lewat berkurang supaya dia bisa menyeberang. dari bawah topinya rambut pink pudar menyembul.

anak anak bermain bulutangkis di sebuah tanjakan di mulut sebuah gang sempit. palang bambu diletakkan di atas motor dan mobil bak supaya menyerupai net.

sekelompok perempuan bersila di depan pagar sebuah rumah mewah.

pekerja bangunan mengerubungi perempuan yang membawa makan siang dengan sepeda.

supir taksi mendengar dakwah dari kaset. tasbih tergantung di kaca spion dalam. kepalanya mengangguk angguk.

aku teringat nenek yang setiap hari minggu menyanyi di depan jemaat. suaranya lebih tangguh daripada tubuhnya.

dan tiang tiang beton terpancang
seperti salib
tanpa kepala
tanpa tubuh

pembangunan masih jauh dari selesai
hujan debu menyumbat pori pori
menyumpal paru paru

ke mana lagi kau mau memandang?

sekarang mungkin mereka sudah mati
padahal stasiun belum jadi

gedung gedung baru

gedung gedung baru
berdiri di jalan jalan usang

petak petak yang kukenal
lengang dan berdebu

kursi
meja
senyum ramah

tak lagi pas
di dalam ingatan

lahan lahan
asing

sementara wajah teman temanku
tiba tiba makin tua

ke mana kalian pergi?
di mana sebenarnya aku terdampar?

 

ditulis pertama kali di tahun 2005, sempat diubah tahun 2007 dan akhirnya diacak-acak menjadi seperti di atas di tahun 2015

kertas kertas menumpuk di atas meja
selembar demi selembar masuk ke dalam mesin penghancur kertas

aku memang ingin membuat kehancuran
sambil mengisi tabel perbandingan harga sayur mayur

jangan sampai kau membayar lebih mahal
ibu rumah tangga yang baik harus bijaksana membelanjakan gaji suami

buku buku yang tak selesai dibaca berdebu di pojok kamar
bukan salah siapa siapa selain diri sendiri

mana obat tetes mata dan krim pelembab
saatnya tidur pakai daster tua

kita lanjutkan lagi besok pagi
mesin penghancur kertas terdengar begitu teratur

mendengkur di dalam telinga

galaksi baru

di meja makan datang pikiran mungkin memang ini saatnya mencari galaksi baru. sup kacang merah terlihat seperti debu-debu kosmis dan dapur yang remang-remang membuat rindu pada cahaya yang pecah jadi pelangi. lalu kita berbicara tentang losmen kedasih dan tukang kaca mata keliling. tentang respek dan milkshake. sampai akhirnya, tentang renovasi rumah yang belum kunjung dimulai. diam-diam ada yang memeluk kakiku seperti arwah yang enggan terbang. sampai ke mana petualangan akan membawa dirimu. ke ruang tamu yang layak masuk majalah, di mana keluarga dan kawan-kawanmu minum teh dan makan kue coklat, atau sebuah planet asing yang udaranya menjanjikan sejarah penuh kemenangan bagi umat manusia, atau hanya sebuah tempat, di mana pun itu asal tidak di sini, di mana kau bisa mati. lebih berarti mungkin, tapi tetap mati. karena ketika kecoak terakhir terguling kaku, tidak ada lagi yang makan sup kacang merah. dan debu-debu kosmis tetap melayang-layang di luar sana seakan-akan tidak pernah ada yang meninggalkan bumi. 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015