ikat

lembar lembar jaringan ikat melilit tengkorak tengkorak
menjadi dahi menjadi hidung menjadi pipi menjadi telinga
membentuk kornea sampai ke retina sampai ke saraf optik
irisnya berwarna cokelat tua
mengendarai mesin mesin,
di dalam mesin mesin

halogen merampas cahaya dari matahari yang tenggelam
memantulkan kilat kilat serupa bintang
bercampur debu

dari debu kembali menjadi debu bahkan namanya pun pudar dari pualam di malam hari ketika sepasang remaja bercumbu malu malu di atas batu yang seperti tempat tidur di sebelah motor yang tak lagi meraung tak jauh dari tukang gorengan dan penjual kopi keliling

mata mereka lepas dahi mereka kempis hidung mereka runtuh pipi mereka lebur telinga mereka copot lembar lembar jaringan ikat lolos otot otot mengendur lepas dari tulang tulang mengering ditelan bumi

galaksi baru

di meja makan datang pikiran mungkin memang ini saatnya mencari galaksi baru. sup kacang merah terlihat seperti debu-debu kosmis dan dapur yang remang-remang membuat rindu pada cahaya yang pecah jadi pelangi. lalu kita berbicara tentang losmen kedasih dan tukang kaca mata keliling. tentang respek dan milkshake. sampai akhirnya, tentang renovasi rumah yang belum kunjung dimulai. diam-diam ada yang memeluk kakiku seperti arwah yang enggan terbang. sampai ke mana petualangan akan membawa dirimu. ke ruang tamu yang layak masuk majalah, di mana keluarga dan kawan-kawanmu minum teh dan makan kue coklat, atau sebuah planet asing yang udaranya menjanjikan sejarah penuh kemenangan bagi umat manusia, atau hanya sebuah tempat, di mana pun itu asal tidak di sini, di mana kau bisa mati. lebih berarti mungkin, tapi tetap mati. karena ketika kecoak terakhir terguling kaku, tidak ada lagi yang makan sup kacang merah. dan debu-debu kosmis tetap melayang-layang di luar sana seakan-akan tidak pernah ada yang meninggalkan bumi. 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015