berada di sebuah mall pada suatu akhir pekan kadang aku perlu beberapa detik untuk memutuskan eskalator berjalan atau berhenti aku tak mengerti orang orang di depan dan di belakangku ingin pergi ke mana mereka berbaris berseliweran mendorong bayi bayi mereka di dalam stroller atau mengejar anak anak mereka yang sudah pandai berlari aku menggandeng anakku tangannya kecil dan lembut menuntunku membelah lautan orang orang yang tak kukenal itu

kadang orang orang diam tetapi suara mereka tumpang tindih dengan suaraku sendiri kadang orang orang begitu banyak bicara tapi aku tak mengerti apa yang mereka katakan beli selusin donat dapat potongan setengah harga kalau beli selusin donat? siapa yang akan makan begitu banyak donat di rumah? beli satu set alat masak dapat diskon 25% kalau punya kartu kredit dari sebuah bank tapi aku hanya perlu centong? beli semangkuk nasi daging lengkap dengan minum bisa beli boneka seharga 75 ribu? apa hubungan antara makan siang dan boneka? beli frozen yogurt small dapat 1 topping, medium dapat 3 topping, tapi large dapat 3 topping juga? beli makanan dengan kartu anggota bisa dapat satu makanan gratis tapi harus top up dulu tidak bisa pisah bill? yang gratis bisa yang paling mahal mbak?

anakku sayang,
tolong antar mama keluar dari sini

dan di dalam mobil dalam perjalanan pulang mobil ini bergabung dengan mobil mobil lain seperti gorong gorong yang mampat

aku harus berkedip dua kali karena aku merasa permukaan jalan di jalur sebelah yang masih kosong terlihat mengalir seperti sungai yang airnya hitam

jaemanis berlarian ke sana kemari di dalam toko mainan melihat lihat stiker membolak balik halaman buku persahabatan penuh glitter menyentuh tombol try me pada figurin sofia the first lalu tersenyum melihat sofia mengangkat tangannya untuk mendekatkan cangkir teh ke mulut sementara amber di sebelahnya bisa menggerakkan kipas kerajaan ke depan dan ke belakang lalu jaemanis lari lagi ke rak yang lain mengamat amati my little pony mulai dari yang kecil sampai yang besar diskon 25% (dari 400 ribuan oh no!) lalu pindah lagi memandangi barbie yang berkaki maupun berekor duyung yang berlabel fashionista maupun princess power lalu mampir ke deretan mould & paint terus lagi ke pensil warna cat air krayon dan berhenti sejenak di depan layar kecil yang menayangkan pelajaran bahasa inggris sebelum melesat membelai tangan boneka boneka baby alive yang kotaknya memang bertuliskan touch my hand seolah olah yang dipegangnya adalah tangan bayi sungguhan lalu lewatlah di belakangnya bayi sungguhan di dalam stroller yang didorong pengasuh dan mengalihkan perhatiannya untuk beberapa saat tetapi setelah bayi itu berlalu ia kembali lagi menggenggam tangan boneka baby alive yang mungil sementara aku memandangi musim musim dingin di dalam mainan toples kaca

kelereng di bola mata anakku
kelereng di bola mata boneka anakku
tumpah berderai derai
menjadi danau
di kakiku

darth vader dan mon chi chi
mandi di dalamnya

kolam kelereng berkilap kilap
memantulkan sinar matahari
yang terpantul dari
kaca
kaca
pencakar
langit

(sebentar lagi tahun ini akan pergi – versi 1)

sebentar lagi tahun ini akan pergi 
seperti tahun tahun kemarin 
     di pondok lestari 

kotak kotak memori bertumpuk tumpuk
tak berlabel tak diselotip 

rumah tak bertuan tak bertamu 
piring piring tengkurap di dapur 

tapi ruang tamuku masih seperti tahun lalu 
ada sepasang lilin wangi, satu pernah dicium api 

kembang api terburai burai   
jaemanis digendong oom doni, 
hup! sebentar lagi alna datang   
hanya malam ini tante tante oom oom 
bermain seperti anak anak kecil 

terompet toet toet 
sorak sorai pecah di balkon 
berdiri empat orang saja sekarang 
nenek, ayah, ibu dan anak 
     di pondok lestari 

dulu kita disebut apa? 
  
dua anak perempuan memanjat pohon 
di halaman sebuah rumah 
     di pinggir rel stasiun cilebut 

bagai peri peri dari negeri tanpa waktu 
kereta ini melesat begitu saja  

hari hari tak bertanggal pergi berlibur 
menyulam yang telah lewat dengan yang belum terjadi

di mana aku di antara benang dan jarum 
di dalam kotak kotak bertempelkan post-it notes 
di dalam buku buku panduan pindahan 
dan bagaimana hidup dengan pasangan yang sedang sakit 
atau krim yang menempel di tanganku 
     di kota yang dulu pernah disebut buitenzorg 

sudah sampai belum? 

gambar gambar tak bersuara
orang orang tak bersuara
wajah wajah di kaca spion
kendaraan kendaraan di jendela toko 
anak kecil bertanya ada berapa titik hujan di kaca jendela mobil 
     sambil melambai pada lampu carrefour yang mengabur

(sebentar lagi tahun ini akan pergi – versi 2)

dua anak perempuan memanjat pohon
di halaman sebuah rumah
     di pinggir rel stasiun cilebut

bagai peri peri dari negeri tanpa waktu
kereta ini melesat begitu saja 

hari hari tak bertanggal pergi berlibur
menyulam yang telah lewat dengan yang belum terjadi

di mana aku di antara benang dan jarum
di dalam kotak kotak bertempelkan post-it notes
di dalam buku buku panduan pindahan
dan bagaimana hidup dengan pasangan yang sedang sakit
atau krim yang menempel di tanganku
     di kota yang dulu pernah disebut buitenzorg

dulu kita disebut apa?

sebentar lagi tahun ini akan pergi
seperti tahun tahun kemarin
     di pondok lestari

kotak kotak memori bertumpuk tumpuk
tak berlabel tak diselotip

rumah tak bertuan tak bertamu
piring piring tengkurap di dapur

tapi ruang tamuku masih seperti tahun lalu
ada sepasang lilin wangi, satu pernah dicium api

kembang api terburai burai  
jaemanis digendong oom doni,
hup! sebentar lagi alna datang  
hanya malam ini tante tante oom oom
bermain seperti anak anak kecil

terompet toet toet
sorak sorai pecah di balkon

berdiri empat orang saja sekarang
nenek, ayah, ibu dan anak
     di pondok lestari

dulu kita disebut apa?

gambar gambar tak bersuara
orang orang tak bersuara
wajah wajah di kaca spion
kendaraan kendaraan di jendela toko
anak kecil bertanya ada berapa titik hujan di kaca jendela mobil
     sambil melambai pada lampu carrefour yang mengabur