jalan sabang bising

siang ini, suara suara di jalan sabang terdengar sedikit terlalu bising. lift yang hanya mampu mengangkut tiga orang juga harus mendongeng. ia bisa mati kapan saja, mungkin sulit untuk hidup kembali. di antara makan siang pun ada tangga rahasia yang jadi tempat tinggal kucing. jangan sentuh pegangannya, tak ada yang tahu siapa lagi yang pernah ke sana. mungkin sudah jadi perkampungan peri-peri bakteri yang tak kelihatan. karena di pinggir jalan ada perempuan yang menutup hidungnya di depan seven eleven. agak kurang sopan menurutku karena tak ada bau. tapi aku tak bisa lagi mencium bau. dan di pinggir jalan pula ada laki-laki yang mengencingi pagar seng. sangat tidak sopan menurutku karena aku bisa melihatnya, walaupun bis bis dari garut yang bersiap siap menuju istiqlal parkir berderet deret di belakangnya. teman-temannya tertawa melihat kami lewat, sementara di lantai dua saudagar kopi ada diskusi mengenai politik identitas. dadaku nyeri memuat sejarah yang sepotong-sepotong. memotong-motong hidup yang selalu berakhir. menit yang lalu sudah bisa dilupakan atau dijadikan kenangan. mengubur milyaran menit terdahulu yang ingin kugali dan rangkai sehingga menjadi sesuatu yang bisa kunamakan asal usulku. banyak yang tidak kumengerti, banyak yang kukira kumengerti. tapi perasaanku mengatakan hari ini bukan saatnya. apa pun itu sudah keburu terlindas kendaraan kendaraan yang lalu lalang. la la la lu la la lang. dan kita hidup bahagia selama kita bisa.

Advertisements

lubang

melewati pekuburan di mana kalian tidur. di lubang yang sama, akhirnya, setelah hampir dua puluh tahun. setiap paskah dan natal, anak-anak dan cucu-cucu kalian datang dengan tubuh berbau autan. bergantian berdiri di pinggir marmer yang memagari gundukan tanah berumput gajah. bergantian pula menekan tombol kamera di telepon genggam. ibu tidak pernah melihat benda itu, ayah tidak pernah mengerti bagaimana menggunakannya kecuali untuk menelepon dan mengirim sms. kadang-kadang muncul ingatan panggilan telepon dari ayah lewat tengah malam menyuruhku segera pulang. mungkin sekarang ia bisa mengajari ibu bagaimana meneleponku dan bicara dengan anakku. ia tidak pernah melihatnya dan anakku hanya melihat foto dan nisanmu. dingkredang, dingkredang, begitu dulu ia memanggilku. mungkin begitu juga ia akan memanggilmu. dan seringkali aku bingung sehabis “satu, dua, tiga…”, aku harus tersenyum atau mengerang. kelopak-kelopak bunga beterbangan, mendarat di sekitar salib yang sedikit bengkok. peti kayu di bawahnya keropos dimakan cacing. ketika penjaga kubur datang menyirami kalian dengan air dari pompa, katanya hanya perlu ditambah sedikit tanah, rumput dan pupuk. seakan-akan semudah itu menjaga kenangan. seakan-akan kenangan harus begitu dijaga.

kami pun pulang, dan aku mengira kepalaku juga mulai keropos, membocorkan masa lalu yang tidak lengkap. dan aku tetap menemukan dua tiga titik merah di lengan.

melewati pekuburan di mana kalian tidur hari ini. aku hanya melambaikan tangan di dalam hati. membayangkan kalian tersenyum dan membalas lambaianku.

lalu telepon genggamku berbunyi.

ikat

lembar lembar jaringan ikat melilit tengkorak tengkorak
menjadi dahi menjadi hidung menjadi pipi menjadi telinga
membentuk kornea sampai ke retina sampai ke saraf optik
irisnya berwarna cokelat tua
mengendarai mesin mesin,
di dalam mesin mesin

halogen merampas cahaya dari matahari yang tenggelam
memantulkan kilat kilat serupa bintang
bercampur debu

dari debu kembali menjadi debu bahkan namanya pun pudar dari pualam di malam hari ketika sepasang remaja bercumbu malu malu di atas batu yang seperti tempat tidur di sebelah motor yang tak lagi meraung tak jauh dari tukang gorengan dan penjual kopi keliling

mata mereka lepas dahi mereka kempis hidung mereka runtuh pipi mereka lebur telinga mereka copot lembar lembar jaringan ikat lolos otot otot mengendur lepas dari tulang tulang mengering ditelan bumi

dari sabang sampai ciledug raya

perempuan muda menumpang duduk di meja paling depan warung sate yang belum buka. telepon genggam menempel di telinganya dan mulutnya komat-kamit.

ibu memasukkan lembaran uang kembalian ke dalam dompetnya di depan warung teh botol. sebotol frestea dikempit di antara paha berlegging hitam.

bapak bertopi berdiri di tepi jalan. menunggu kendaraan yang lewat berkurang supaya dia bisa menyeberang. dari bawah topinya rambut pink pudar menyembul.

anak anak bermain bulutangkis di sebuah tanjakan di mulut sebuah gang sempit. palang bambu diletakkan di atas motor dan mobil bak supaya menyerupai net.

sekelompok perempuan bersila di depan pagar sebuah rumah mewah.

pekerja bangunan mengerubungi perempuan yang membawa makan siang dengan sepeda.

supir taksi mendengar dakwah dari kaset. tasbih tergantung di kaca spion dalam. kepalanya mengangguk angguk.

aku teringat nenek yang setiap hari minggu menyanyi di depan jemaat. suaranya lebih tangguh daripada tubuhnya.

dan tiang tiang beton terpancang
seperti salib
tanpa kepala
tanpa tubuh

pembangunan masih jauh dari selesai
hujan debu menyumbat pori pori
menyumpal paru paru

ke mana lagi kau mau memandang?

sekarang mungkin mereka sudah mati
padahal stasiun belum jadi

orang orang satu per satu mati

orang orang satu per satu mati. membawa sejarah masing masing ke dalam tidur panjang di dalam kotak atau di dalam lipatan kain. cerita cerita sedih bahagia mimpi mimpi yang pernah jadi kenyataan atau hancur berantakan akhirnya jadi tubuh yang kaku. tubuh itu pernah berdoa hujan tak jadi turun dan doanya dikabulkan. tubuh itu pernah pura pura bisa membaca keras keras buku buku berbahasa inggris. tubuh itu pernah memanjat pohon dan mengamati teman temannya bermain bola di bawah. tubuh itu pernah meniup gelembung gelembung sabun di sebuah taman. tubuh itu pernah naik becak bersama ibunya lalu becak itu terbalik di tikungan. tubuh itu pernah bercinta di loteng, di bawah genteng bolong yang jadi jalan masuk nyamuk nyamuk. tubuh itu pernah dimaki maki karena tidak bisa membayar hutang. tubuh itu pernah merasa sangat bosan. tubuh itu pernah melahirkan banyak anak dan ia mencintai sekaligus membenci mereka. tubuh itu pernah menghabiskan berjam jam di sebuah kedai kopi menulis berlembar lembar puisi yang tak selesai dan tak diketahui siapa siapa. tubuh itu pernah dimaki maki karena tidak bisa lagi memberikan piutang. tubuh itu banyak melakukan pekerjaan rahasia untuk pemerintah. tubuh itu banyak melakukan pekerjaan yang tidak begitu rahasia untuk melawan pemerintah. tubuh itu tidak pernah kenal ayah ibunya. tubuh itu pernah dipijat anaknya semata wayang yang masih kecil dan mereka lalu tertawa terbahak bahak. tubuh itu pernah bergoyang kecil mengikuti irama lagu di sebuah bar yang tak terlalu ramai. tubuh itu pernah menangis ketika menonton serial detektif di televisi. tubuh itu pernah mendapatkan sedikit ketenaran karena menang kejuaraan menyanyi tingkat nasional. tubuh itu pernah melihat anaknya mengamati toko toko dari dalam kereta anak anak di sebuah pusat perbelanjaan dan ia melihat anaknya sepertinya tahu ia tak akan bisa mendapatkan barang barang yang dijual di sana. tubuh itu pernah menanam pohon belimbing. tubuh itu pernah naik kereta api dan melihat pengemis cacat mengepel lantai kereta dengan tangannya. tubuh itu pernah merasa tak berguna. tubuh itu pernah merasa begitu bersalah karena merasa tak berguna. tubuh itu lalu merasa bersalah karena merasa bersalah karena ada orang orang lain yang mempunyai masalah masalah yang lebih penting. tubuh itu pernah marah karena hal hal kecil ketika sebenarnya sedang marah karena hal hal besar. tubuh itu pernah ditinggalkan orang orang yang dicintainya. tubuh itu kini meninggalkan mereka. menjadi tanah gembur entah kapan digusur. menjadi abu di dalam guci. disebar dan bergabung dengan buih di lautan. asapnya meliuk liuk dari cerobong hilang sebelum menyentuh awan.

 

terinspirasi dari buku puisi “the field” karya martin glaz serup, yang beberapa bagiannya kemudian diterjemahkan oleh ratri ninditya